Pembukaan Lahan Sawit, Kerusakan Hutan BORNEO..

Palangka Raya, Koran Internet: Menurut sebuah lembaga peduli lingkungan Save Our Borneo (SOB), menyatakan sekitar 80 persen kerusakan hutan yang terjadi di Kalimantan disebabkan ekspansi sawit oleh perusahaan besar.

Direktur Eksekutif Save Our Borneo, Nordin, di Palangka Raya, Kamis
(19/6), mengatakan, “Kerusakan terbesar hutan di Kalimantan adalah
karena pembukaan lahan untuk kelapa sawit, dan sisanya sebanyak 20
persen karena pertambangan, dan area transmigrasi. ”

SOB memaparkan, berdasarkan prediksi tren 10 tahunan, dari luas
Kalimantan yang mencapai 59 juta hektare, laju kerusakan hutan
(deforestasi) telah mencapai 864 ribu hektare per tahun atau 2,16
persen.

Menurut Nordin, kerusakan hutan yang terjadi di Provinsi Kalimantan
Tengah tercatat sebagai yang terluas dibanding tiga provinsi lain dari
sisi luasan kerusakan yakni mencapai 256 ribu hektare per tahun. Dari
lebih 10 juta luas hutan yang dimiliki Kalimantan Tengah, laju
kerusakannya telah menembus sekitar 2,2 persen per tahun.

Sementara Provinsi Kalsel, memiliki laju kerusakan yang paling cepat
dibanding provinsi lain, meski luasannya relatif kecil. Tercatat
seluas 66,3 ribu hektare hutan musnah per tahun dari total luas
wilayah hutan sekitar 3 juta hektare. Kondisi hampir serupa terjadi di
tiga provinsi lain, dengan luas dan laju yang berbeda. Penyebab
utamanya karena pembukaan pertambangan batubara dan perkebunan kelapa
sawit.

Kalimantan Barat misalnya, dari luas wilayah hutan mencapai 12,8 juta
hektare memiliki laju kerusakan mencapai 166 ribu hektare pertahun
atau 1,9 persen. Nordin menjelaskan, kegiatan eksploitasi secara
serampangan itu selain mengakibatkan hutan rusak, juga berdampak pada
terjadinya bencana banjir dan tanah longsor.

“Indikasinya nyata terjadi terjadi di beberapa kabupaten di Kalteng
seperti Barito Utara, Murung Raya, Barito Selatan. Banjir musiman yang
semula hanya sekali setahun, kini bisa terjadi empat atau lima kali
dalam setahun,” tegasnya. Dampak negatif lain dari eksploitasi hutan
adalah hilangnya identitas masyarakat setempat, kata Nordin.

Arus masuknya budaya luar yang dibawa oleh masyarakat pendatang dalam
kegiatan perkebunan maupun pertambangan dinilai telah mengakibatkan
lunturnya nilai-nilai kearifan lokal. “Ketergantungan dengan pihak
luar itu karena prasarana berproduksi masyarakat yakni berupa lahan
kian menyempit, sehingga mereka menjadi tergantung dengan pihak luar,”
tambahnya. (Mnr/Ant)

Categories: Our BORNEO | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: