Sinopsis Drama : Penjara!!! Nggak Janji deh! by Teater DJAMAN MAN 2 Samarinda

Drama : Penjara!!! Enggak Janji deh…!
Produksi : Teater DJAMAN MAN 2 Samarinda
P. Naskah : Herry Kriiink
Sutradara : Umi Hanik
Pim.Pro : Guntur Aditya Rahman

Penjara!!! Enggak Janji deh…!

Kehidupan tiap orang berbeda, nasib tiap kelompok pun tidak sama. Sama halnya dengan kisah dari drama berikut, menggambarkan bagaimana usaha dan keadaan sekelompok anak jalanan yang hidup di pemukiman yang tidak memadai ditambah kejadian-kejadian yang tidak manusiawi..
Cerita ini diawali dengan munculnya seorang gadis muda bernama Mimin. Mimin terlihat murung seraya menatap bulan dan menghitung bintang yang bertebaran di langit malam. Tergambar jelas kesedihan dalam raut wajahnya, sinaran matanya, entah apa yang membuatnya sedih. Tak lama, datanglah sang kakak bernama Mumun. Setelah berbicara beberapa saat, akhirnya Mumun berhasil membujuk Mimin untuk tidak bersedih lagi. Tidak lagi bersedih akan rasa rindunya kepada sang Ibunda yang telah lama tiada.
Tak lama datang beberapa anak sambil berlari dengan tergesa-gesa menghampiri Mimin dan Mumun, salah satunya ialah Mamad. Mimin dan Mumum bingung akan apa yang terjadi terhadap mereka sebelumnya. Setelah bertanya , barulah diketahui bahwa mereka diganggu oleh kawanan preman yang dipimpin oleh Jono. Itu kabar yang tidak menyenangkan bagi Mimin, dan ada lagi kabar yang lebih tidak menyenangkan terdengar dari tutur kata Mamad, yaitu berita diculiknya Ina, kakak dari Rani.
Mengetahui hal itu, Mimin begitu kesal dan heran. Siapa yang tega berbuat hal seperti itu terhadap keluarga Rani. Akhirnya setelah berunding beberapa saat, Mimin memutuskan untuk mengajak Rani agar dapat tinggal bersamanya. Hal itu bertujuan untuk mengurangi rasa sedih yang dialami oleh Rani yang kini sendiri tanpa kehadiran sang kakak, Ina. Mamad dan kawan-kawan pun memilih untuk mencari dimana keberadaan Ina.
Rani, seorang gadis yang hidup sengsara dan menderita karena keadaan ekonomi ditambah ketidakmampuannya dalam melihat dunia ini dikarenakan penyakit yang bernama buta.
Saat Rani sedang berbicara dengan Mimin dan Mumun, datang Mamad dan kawan-kawan. Mereka mengabarkan bahwa usaha pencarian Ina untuk saat itu nihil. Rani kembali sedih, ditambah karena ucapan Mamad yang menyebutkan bahwa Ina diculik untuk dijual ke luar negeri. Hal itu semakin memperburuk kondisi emosi Rani, rasa sedihnya tidak bisa dibendung lagi.
Lain halnya dengan gerombolan Jono, kian hari semakin mengganggu Mimin dan kawan-kawan, termasuk Rani. Awalnya Mimin dkk memilih diam atas ulah kawanan Jono. Tetapi hal itu tidak berlaku lagi saat Mimin mengetahui Mamad dipukuli oleh kawanan Jono.
Suatu waktu, Mimin dkk berhasil menangkap Jono saat sedang sendirian di taman. Dari kejadian tersebut, Jono dalam keadaan terpaksa harus menyetujui perjanjian yang diajukan oleh Mimin dkk. Dengan ancaman jika kawanan Jono melanggar perjanjian tersebut, Mimin akan menyerah surat perjanjian itu ke pihak yang berwajib agar kawanan Jono bisa dipenjarakan.
Tempat Ina disekap akhirnya diketahui didalam hutan yang lebat. Dan tempat itu merupakan tempat persembuyian Jono dan kakaknya, si penculik Ina. Ina berusaha meminta tolong kepada siapapun, tetapi mustahil ada yang menolongnya dalam hutan yang lebat itu ujar si penculik, yaitu kakaknya Jono. Saat tengah sibuk menghina Ina, kawanan polisi menyergap tempat tersebut dengan tiba-tiba sehingga membuat kakaknya Jono kaget. Kakaknya Jono ditangkap, di sela-sela itu datang Jono dengan wajah penuh heran. Melihat kakaknya ditangkap polisi, Jono pun juga menangkap Ina seraya mengarahkan pisau ke Ina dengan tujuan agar kakaknya di lepaskan. Tetapi polisi tidak mengubris ancaman Jono dan sadisnya Jono berani menusuk Ina. Kepanikan terjadi sehingga membuat Jono dan kakaknya dapat kabur dari tempat tersebut.
Tak lama datang Mimin dan Rani. Mimin begitu sedih mengetahui Ina telah tiada, ia tak mampu memberitahu Rani walau Rani tepat disampingnya. Akhirnya, Rani mendekati kakaknya dengan arahan Mimin. Mengetahui kakaknya telah tiada, Rani sangat terpukul dan tidak dapat membendung rasa sedih dan kekecewaannya.

Simpulan :
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

| Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: