Analisis Komponen Kesastraan Drama “Sang Pahlawan” Karya Ajie Sudharmaji Mukhsin

Analisis Komponen Kesastraan Drama
“Sang Pahlawan” Karya Ajie Sudharmaji Mukhsin


Tim Penyusun : Fajar Aidil Saputra, Hario Adhy Nugroho,

Irvan Ramdanie, Matbisri, Mochammad U’ud Zaimmudin,

Muhammad Ashrory Adha

Penulis Drama
: Ajie Sudharmaji Mukhsin

Editor : Fajar Aidil Saputra

Pengetik Teks : Irvan Ramdanie & Matbisri

Perancang Tata Letak Isi : Irvan Ramdanie

Tahun Terbit : 2011

Halaman Isi : 10 halaman

Ukuran Buku : 20 x 27,5 cm

ISBN : –


A. Tema

Jenis tema yang digunakan atau dianut oleh pengarang yang terdapat dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin ialah pergaulan bebas. Telah tergambarkan dalam naskah drama tersebut bahwa pergaulan bebas akan mengakibatkan terjadinya perbuatan yang tidak senonoh dan kegelisahan hati oleh pelakunya sehingga mengakibatkan perasaan sang pelaku dihantui rasa bersalah. Persoalan ini dialami oleh Nuniek dan Hastien.

Hal ini dapat dilihat pada kutipan prolog dalam naskah drama tersebut.

“Nuniek dan Hastien adalah dua gadis yang malang. Kedua orang itu hamil sebelum perkawinan. Kejadian itu diketahui, setelah dua bulan mereka rekreasi dari Dieng. Namun Nuniek lebih beruntung daripada Hastien, sebab Burhan bersedia bertanggung jawab, bahkan sudah dikawini secara resmi. Bagaimanakah keadaan Hastien sekarang? Tonny dan Hastien sama-sama melakukannya.”

Dari kutipan di atas dapat diketahui bahwa keadaan yang dialami oleh Hastien tidak seberuntung Nuniek. Karena Burhan bersedia bertanggung jawab dan telah mengawini Nuniek secara resmi. Sedangkan Tonny bertolakbelakang dengan Burhan, ia tidak mau mengawini Nuniek secara resmi. Itulah yang menjadi permasalahan terbesar bagi Hastien.

B. Alur

Jenis alur yang digunakan atau dianut oleh pengarang yang terdapat dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin ialah alur campuran. Jenis alur yang pertama ialah alur mundur. Hal itu dapat dilihat pada percakapan awal antara Nuniek dan Hastien.

Berikut kutipan dialog antara Nuniek dan Hastien yang berhubungan dengan alur mundur :

Nuniek                        : Bagaimana, Tien, Tonnymu? Apa dia dating dari Jakarta?

Hastien`           : Datang sih sudah! Tapi dasar lelaki, bosan aku berurusan dengan

dia. Lagi orang tuanya, yang bawel itu, malah menyalahkan saya.

Nuniek                        : Lho! Emangnya yang salah siapa?

Hastien            : Ya, jelas dia dong. Kalau aku enggak dikasih itu, kan nggak begini

jadinya.

Nuniek                        : Kalau kamu enggak mau diajak itu, pasti enggak begitu!

Hastien            : Kau juga menyalahkan aku?

Hastien tampak kesal dan bosan berurusan dengan Tonny. Tak hanya itu, kekesalan Hastien bertambah karena orangtua Tonny menyalahkan penyebab terjadinya kejadian itu ialah Hastien. Hastien dan Nuniek mulai membahas dan saling menyalahkan atas apa yang telah terjadi. Mengingat kembali kejadian yang telah terjadi dalam bentuk pembicaraan seperti yang dilakukan oleh Nuniek dan Hastien pada dialog drama tersebut ialah salah satu unsur alur mundur.

Sedangkan untuk alur maju yang terdapat dalam drama tersebut pada dilihat pada kutipan dialog berikut ini :

Nuniek                        : Jangan putus asa! Saya dan Mas Burhan sedang mengusahakan.

Hastien            : Pertemuanku dengan Tonny?

Nuniek                        : Ya!

Tak hanya itu, terdapat beberapa kutipan lainnya yang mengandung unsur alur maju, salah satunya ialah sebagai berikut :

Nuniek                        : Aku dan Mas Burhan sedang mengambil jalan tengah!

Hastien            : Di mana Mas Burhan sekarang?

(Nuniek belum sempat menjawab, Burhan telah masuk bersama Eddy

mereka saling bersalaman)

Burhan                        : Sukses! Eh, hendaknya, Ed, ditulis dengan huruf besar : SUKSES!

(Nuniek dan Hastien tak mengerti, Eddy sedikit senyum)

Nuniek                        : Apa sih, Mas?

Hastien            : Apa?

Burhan                        : Kalian pasti tak mengerti. (Sambil menunjuk Nuniek dan Hastien)

Kali ini, kita sama-sama mengharapkan perjuangan dari pahlawan kita.   Semoga ia berhasil dalam peranannya. Apakah kalian sudah mengerti siapa pahlawan kita itu?

(Nuniek dan Hastien hamper bersamaan menggelengkan kepala)

Dari bebapa dialog/percakapan yang dilakukan oleh Nuniek, Hastien dan Burhan dapat memberikan gambaran bagaimana usaha Nuniek dan Burhan untuk mencari jalan keluar atas permasalahan yang dialami oleh Hastien. Dan Burhan telah menemukan kunci untuk memecahkan masalah itu, yaitu dengan hadirnya seorang pahlawan yang akan menolong Hastien. Membicarakan atau melakukan sesuatu yang berhubungan langsung dengan kejadian/cerita selanjutnya merupakan unsure yang terkandung dalam alur maju.

C. Tokoh dan Perwatakan

1. Tokoh

Dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin ini terdapat beberapa tokoh yang ditampilkan. Berikut daftar tokoh dalam drama tersebut beserta bukti percakapan masing-masing tokoh :

  • Nuniek      : Karena kekayaannya itulah! Dan kau mengejar kekayaan itu bukan?

(dialog ke-11)

  • Hastien      : Aku sama sekali tidak mengejar kekayaannya.

(dialog ke-12)

  • Burhan      : Baik, inilah dia orangnya. (Sambil menunjuk Eddy)

(dialog ke-29)

  • Eddy         : Bicara apa, Bur?

(dialog ke-32)

  • Tonny        : Aku tidak diperkenankan oleh orang tuaku!

(dialog ke-74)

2. Perwatakan

Fungsi tokoh / perwatakan pada naskah drama “Sang Pahlawan” memiliki 3 unsur, yakni: protagonis, antagonis, dan tritagonis.

Ø   Protagonis

Perwatakan protagonis dalam cerita ini terlihat jelas pada tokoh Nuniek dan Burhan. Data yang menunjukkan watak dari keduanya terlihat pada kutipan berikut.

Nuniek   :    Jangan putus asa! Saya dan Mas Burhan sedang mengusahakan.

Hastien  :    Pertemuanku dengan Tonny?

Nuniek   :    Ya!

Hastien  :    Dan kemudian akan menjatuhkan namaku, seperti ketika di Dieng?

Nuniek   :    Jelas beda dong!  Aku juga mengakui  kejadian itu. Aku juga merasa bersalah. Hingga kini aku bisa hidup sebagai suami­-istri.

Hastien  :    Tapi aku? Apakah aku hanya hidup kedalam ketidaktentuan belaka?

Nuniek   :    Aku dan Mas Burhan sedang mengambil jalan tengah!

Dalam drama ini, Nuniek dan Burhan adalah sepasang suami-istri. Mereka berdua adalah sahabat Hastien. Tapi sayang, persahabatan mereka terjerumus dalam hal yang negatif. Mereka terjebak terjerumus dalam pergaulan bebas. Yang mengakibatkan kehamilan pranikah.

Nuniek dan Hastien adalah korban dari aksi itu. Tapi Nuniek beruntung karena Burhan bersedia untuk bertanggung jawab.  Sedangkan Hastien adalah korban yang tak seberuntung Nuniek, karena pasangannya “Tonny” tidak mau bertanggung jawab.

Nuniek dan Burhan berniat untuk membantu masalah Hastien dengan cara mempertemukan mereka berdua. Yang bertujuan agar Tonny mau bertanggung jawab atas perbuatannya.

Ø   Antagonis

Watak atagonis dalam naskah drama ini terletak pada tokoh Tonny. Hal tersebut dapat dilihat pada kutipan berikut.

Nuniek   :    Bagaimana, Tien, Tonnymu? Apa dia datang dari Jakarta?

Hastien  :    Datang sih sudah! Tapi dasar lelaki, bosan aku berurusan dengan dia. Lagi orang tuanya, yang bawel itu, malah menyalahkan saya.

Dalam drama ini, tokoh Tonny digambarkan sebagai anak muda yang tergolong orang kaya. Ia memiliki banyak harta dan juga wajah yang tampan.

Oleh sebab itu Hastien cinta mati kepada Tonny. Tapi cintanya dimanfaatkan oleh Tonny. Hastienpun tersesat dalam jalan kemaksiatan. Setelah berjalan waktu 2 bulan, terlihat akibat dari perbuatan mereka. Hastien hamil. Ia bingung untuk meminta pertanggung jawaban dari Tonny. Karena Tonny selalu menghindar. Puncak konflik terasa saat orang tua Tonny menyalahkan Hastien dan membela anaknya. Karena merasa ada yang membela, Tonny pun bersikeras untuk tidak mau bertanggung jawab.

Ø    Tritagonis

Sifat tritagonis adalah sifat yang menengahi antara protagonis dan antagonis. Dalam naskah drama ini, Eddylah yang memiliki sifat tritagonis. Seperti yang terdapat dalam teks.

Eddy     :    Begini, Hastien, aku akan menolongmu. Aku pernah berhutang budi padamu. Aku merasa berdosa saat itu, meminta uang dengan paksa sampai beberapa bulan. (Eddy diam sejenak) Pagi tadi Burhan bercerita kepadaku tentang keadaanmu. Sebenarnya  aku menyesalkan tindakan Tonny itu. Kenapa dia melakukan tindakan begitu kepadamu. Kupikir terlalu nekad. Nah kuharap kau mengerti, Hastien.

Hastien  :    Kau akan menolongku?

Eddy     :    Ya!

Hastien  :    Dengan cara bagaimana, kau akan menolongku?

Eddy     :    Menyeret Tonny ke hadapan Hastien.

Hastien  :    Hah! (Agak terkejut)

Eddy     :    Tonny harus bersumpah dihadapan Hastien bahwa dia bersedia mengawini Hastien dengan segera!

Hastien  :    Bisakah begitu?

Eddy     :    Inilah Eddy yang dulu nakal dan bejad akan memulai dengan kebaikan.

Tokoh Eddy digambarkan sebagai sesosok pemuda yang berjiwa pemberani dan kasar. Ia adalah kawan 1 kelas dengan Hastien saat dulu dibangku sekolah. Dahulunya Eddy merupakan preman di sekolahnya, tiap pagi ia meminta uang kepada teman-temannya secara paksa. Tak luput juga kepada Hastien.

Setelah mendengar penjelasan dari Burhan, Eddypun merasa tersentuh karena menurutnya Hastien telah dilecehkan oleh Tonny. Maka dengan jiwa pemberaninya ia nekad untuk membantu Hastien dengan cara menyeret Tonny kehadapan Hastien dan memaksanya agar ia bersedia untuk  bertanggung jawab.

D. Dialog

Dalam drama pasti ada dialog/percakapan antara tokoh. Tokoh dalam drama naskah drama biasanya berbicara dengan tokoh-tokoh yang lain, memperbincangkan sesuatu. Dalam komponen dialog itu sendiri, terdapat tiga jenis yang dapat kita ketahui. Komponen-komponen itu ialah prolog, monolog, dan epilog.

Prolog ialah uraian singkat atas apa yang telah terjadi dan apa yang akan terjadi bisanya dibacakan oleh seorang narrator, yaitu seseorang yang bercerita kepada penonton dalam setiap cerita (karya sastra, film, bermain, akun verbal, dll). Sedangkan untuk monolog ialah seorang tokoh yang ada kalanya berbicara tanpa lawan bicara atau berbicara kepada diri sendiri. Dan epilog ialah bagian dari tulisan pada akhir sebuah karya sastra atau drama, biasanya digunakan untuk membawa penutupan yang sering berfungsi untuk mengungkapkan nasib dari karakter/tokoh.

Dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin hanya terdapat satu unsur dialog, yaitu prolog. Tidak ada satu percakapan dari masing-masing tokoh yang termasuk unsur monolog, dan penyampaian nasib tokoh dalam akhir cerita digambarkan dalam dialog antar tokoh.

Untuk prolog, dapat dilihat buktinya pada kutipan berikut ini :

“Nuniek dan Hastien adalah dua gadis yang malang. Kedua orang itu hamil sebelum perkawinan. Kejadian itu diketahui, setelah dua bulan mereka rekreasi dari Dieng. Namun Nuniek lebih beruntung daripada Hastien, sebab Burhan bersedia bertanggung jawab, bahkan sudah dikawini secara resmi. Bagaimanakah keadaan Hastien sekarang? Tonny dan Hastien sama-sama melakukannya.”

E. Latar

Latar atau setting adalah tempat waktu ataupun suasana terjadinya peristiwa yang dialami dalam karya sastra baik drama atau cerpen. Setting dibedakan menjadi tiga yaitu, tempat, waktu dan suasana.

Dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin dapat dilihat unsur setting tempat pada kutipan dialog yang diucapkan oleh Hastien.

Hastien            : Di mana Mas Burhan sekarang?

(Nuniek belum sempat menjawab, Burhan telah masuk bersama

Eddy, mereka saling bersalaman)

Dalam kutipan drama di atas,d apat diperkiran tempat terjadi dialog itu ialah sebuah ruangan yang di dalamnya terdapat Nuniek dan Hustien, disusul masuknya Burhan dan Eddy ke dalam ruangan tersebut.

Sedangkan untuk unsur setting waktu dapat dilihat pada kutipan dialog yang diucapkan oleh Eddy :

Eddy               : …….. Pagi tadi Burhan bercerita kepadaku tentang keadaanmu.

Sebenarnya aku menyesalkan tindakan Tonny itu. Kenapa dia melakukan tindakan begitu kepadamu. Kupikir terlalu nekad. Nah kuharap kau mengerti, Hastien.

Dari kutipan di atas, dapat diketahui waktu terjadi salah satu peristiwa, yaitu saat Burhan memberitahu Eddy atasa apa yang terjadi, lebih tepatnya pada pagi hari saat bersama Eddy.

Dan untuk unsur setting suasana dapat dilihat pada kutipan dialog antara Hastien dan Nuniek sebagai berikut :

Hastien            : Kau juga menyalahkan aku!

(Lebih keras dialognya, karena hastien sedikit marah kepada Nuniek. Dan Hastien sendiri merasa kurang yakin, apa yang diucapkannya tadi)

Nuniek                        : Tonny memang begitu! Dia sulit untuk dapart dipercaya. Dan kau

tahu, apa yang menyebabkan dia berani menolakmu dan menyalahkanmu?

Dari dialog antara Nuniek dan Hastien, dapat terlihat bahwa suasana yang terjadi sedikit memanas karena Hastien merasa Nuniek ikut menyalahkannya atas apa yang terjadi. Dan sahutan yang diberikan Nuniek mengenai sifat dan watak Tonny terlihat sedikit keras dan lantang.

F. Amanat

Amanat yang dapat dipetik dalam naskah drama “Sang Pahlawan” karya Ajie Sudharmaji Mukhsin ialah dalam menjalani sesuatu, baik itu hubungan antara sepasang kekasih atau sebagainya, perlu dilihat batas-batas tertentu dalam hubungan itu. Jangan sampai terjadi hal-hal yang tidak dinginkan, seperti yang terjadi oleh Hastien dan Nuniek. Amanat lain pun dapat di lihat pada kutipan prolog naskah darama tersebut :

“Nuniek dan Hastien adalah dua gadis yang malang. Kedua orang itu hamil sebelum perkawinan. Kejadian itu diketahui, setelah dua bulan mereka rekreasi dari Dieng. Namun Nuniek lebih beruntung daripada Hastien, sebab Burhan bersedia bertanggung jawab, bahkan sudah dikawini secara resmi. Bagaimanakah keadaan Hastien sekarang? Tonny dan Hastien sama-sama melakukannya.”

Dari kutipan di atas, dapat disimpulkan bahwa sesuatu yang buruk itu pasti berdampak buruk dan akan menyengsarakan para pelakunya. Berpikirlah sebelum bertindak, itu lebih baik. Sama halnya pepatah mengatakan “Dalam bertindak atas sesuatu, ada kalanya kita harus berpikir sebanyak 6 kali.” Hal itu dengan maksud agar yang kita lakukan benar-benar telah sempurna dan tidak akan membuat penyesalan dikemudian harinya.

Categories: Ilmu Kesastraan | Tags: , , | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: