Part VI
Simphoni Pasukan Bahasa
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

Tahukah engkau?
Siapa kami?
Kami ini bukan pelajar berhitung
Kami ini bukan pula pelajar berpeta
Lalu..
Siapakah kami?
Kamus, sastra?
Itukah kami?
Ya, inilah kami.

Membaca kutipan bait puisi Simphoni Pasukan Bahasa yang dibuat sebagai rasa bangga akan kelas yang gue tempati saat ini membuat gue tersenyum dan selalu tersenyum. Ya, gue bangga dengan kelas baruku, atau lebih tepatnya kelas idamanku ini, segala tujuan dan harapanku tertanam dalam kelas itu.

Sewaktu kenaikan kelas, memang gue akui ada rasa khawatir akan kelas itu. Akankah gue bisa beradaptasi dengan kelas itu? Dengan orang-orang di kelas itu? Dengan guru-guru baru di kelas itu? Apakah ada yang menolong jika sewaktu-waktu penyakit ayan gue kambuh lagi? Akankah ditolong atau hanya dibiarkan seperti kelas gue sebelumnya. Semoga saja tidak. Yah, itulah sedikit problem dari banyak problem yang gue risaukan.

“Gilaak! Ini kelas isinya preman dan premanwati semua!” pikir gue kaget dalam hati setelah melihat list nama siswa-siswi yang kelak akan menghuni kelas Bahasa bersama gue.
“Kenapa?” tanya seseorang yang berada di samping gue seraya terus melihat list nama-nama siswa-siswi kelas XI di Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda.
“Enggak, enggak ada apa-apa. Cuma kaget saja.” jawabku singkat, tak ingin berbicara banyak.
“Kaget? Atas apa?” tanyanya lagi. Mungkin jawabanku sebelumnya terdengar janggal baginya. Mungkin saja.
“Atas semua, terutama atas list ini.” Balasku, dan kemudian menunjuk salah satu list yang berjudul XI Bahasa. Melihat itu, ternyata mengundang tawa dari anak itu.
“Ahahaha. Karena list ini? Serius?” tanyanya lagi dengan mata melotot seolah-olah mengejek kegundahan gue. Tak hanya mata yang melotot, anak itu ikut menunjuk-nunjuk list XI Bahasa seolah-seolah apa yang gue gundahkan itu salah. Hedeh.
“Ahaha, asem. Tidak usah segitunya, boy!” balasku tertawa kecil.

Gue akui, kekhawatiran gue itu wajar, karena hal itu menyangkut nyaman atau enggaknya gue kedepannya.

Tak beranjak lama dari kejadian itu, hal selanjutnya yang gue lakukan ialah mencari teman sebangku. Hal itu penting, karena gue tidak ingin kejadian di kelas X terulang kembali, hampir sebulan duduk sendirian di deretan bangku paling depan.
Perburuan gue dimulai melalu media facebook, dan korban incaran pertaam gue ialah salah seorang teman gue, Zhafira Kurnia Fitri, itulah namanya. Gue awali dengan memposting ajakan gue itu ke wall facebook dia.
3 menit kemudian, balasan wall pun datang ke wall gue.

Kami pun mulai saling mengirim wall, terus menerus tanpa henti (ujung-ujung berhenti juga).

Gagal bagi gue untuk duduk dengan Zhafira, tetapi gue bersyukur juga, karena seandainya saja rejeki gue untuk duduk bersamanya, mungkin saja nasib gue bisa sama seperti kelas X saat duduk bersama Reitisa, yaitu gue TERTINDAS. Lambat laun, gue akhirnya duduk dengan U’ud, remaja keturunan Jawa. Sejujurnya gue akui, mau duduk dengan siapa, itu tak jadi masalah, bagi gue yang penting bisa duduk di baris depan.
Dan ternyata, duduknya gue bersama U’ud merupakan suatu malapetaka yang asik tapi menyakitkan, lantaran gue selalu menjadi korban ketidakadilannya. Ditambah tepat dibelakang gue. Terdapat dua pasangan makhluk enggak jelas yang membuat gue semakin tertindas, yaitu Matbisri enggak pake spasi dan Fajar sang cowo lutu.
Gue tahu, kelas XI Bahasa pasti berisi dengan beranekaragam makhluk, baik yang normal, abnormal, pendiam, pemalu, berisik, sampai gila sekalipun. Awalnya hampir seluruh anak dikelas terlihat rajin dan pintar, tetapi belakangan diketahui hal itu hanyalah kedok. Tak ada yang benar, semuanya kacau.

“Woi!!!! Ada yang punya selotip buat bibir kah!?” teriak Matbisri enggak pake spasi memecahkan keramaian di kelas Bahasa yang lebih dikenal dengan sebutan diskotik. Semua perhatian tertuju pada Matbisri, termasuk gue yang saat itu sedang mengerjakan tugas senibudaya. Gue berpikir, pasti ada hal yang membuat dia marah, dan bisa gue tebak, hal apakah itu!
“Syifa! Bediam coba!” keluh Fajar, lantaran tak tahan dengan ocehan Syifa. Ya, itulah Syifa. Makhluk kecil yang memiliki kebiasaan mengoceh tiada henti, dan selalu membuat onar. Dari dulu gue berpikir, apa penyebab ia seperti itu? Satu hal yang gue pikirkan : mungkin dia, sewaktu masih bayi, salah diberi ASI.
Kerennya, XI Bahasa memiliki banyak personil yang berbeda tetapi pada dasarnya sama, sama-sama usil seperti Syifa. Ada Onor, temen gue yang berperawakan tinggi, tidak kurus dan berpakaian amburadul layaknya preman, tetapi berhati so sweet. Ada Asid, suami Dinda yang dikenal sebagai pemanis sebelum kelas gue. Manis dikelas kami bukanlah manis dalam arti yang sesungguhnya, melainkan manis saat ia berkata-kata. Hanya dengan sepatah dua patah kata, ia mampu membuat satu kelas memusatkan perhatian kepadanya, entah karena perkataanya yang lucu, atau yang lainnya.
“Duduk disamping Syifa, telinga rasa tebakar heh!” keluh Asid saat berkumpul bersama di depan kelas. Kebetulan, saat itu kelas gue tidak ada guru yang mengajar. Hal seperti itu sudah biasa, banyak yang telah mencap Bahasa sebagai kelas tersantai. Dan itu memang benar, kami selalu memiliki waktu untuk bercanda gurau, lantaran banyak waktu kosong di kelas.
“Bener kata Asid. Syifa itu ngoceh terus! Pusing kepalaku!” ucap Ashrory atau kerap disapa Oyi. Entah karena apa, teman gue yang bertubuh gempal itu terdampar di bangku yang berada tepat dibelakang Syifa. Jadi, secara tidak langsung, Oyi selalu menerima siksaan batin yang bersal dari ocehan mulut Syifa.
Hari demi hari, gue semakin menyukai kelas gue. Gue akui, kebersamaan di kelas gue semakin kuat, walau masih ada bebarapa anak yang kurang interaksinya, tetapi hal itu pasti akan berubah dari waktu ke waktu. Banyak hal yang membuat kami akrab, banyak kegiatan ataupun kejadian yang membuat kami kompak, salah satunya ialah Drama Bahasa Inggris yang kami lakukan demi memenuhi tugas dari Miss Leny, guru Bahasa Inggris.
Kelas dibagi menajdi 2 kelompok, gue dikelompok pertama dengan judul drama, Cindejanda. Sebuah drama yang kami ambil dari drama Cinderella. Nama Cindejanda tidak lain berasal dari ide konyol sahabat gilaku, yaitu Fajar.
“Ah, basi judulnya. Cindejanda aja!” ucap Fajar disela-sela latihan kelompok.
“Cindejanda?” tanya gue heran, saat itu.
“Iya, Cindejanda.” ucapnya lagi, serius banget.
“Kenapa gak Cindeikhlas? Kan rella mirip dengan ikhlas?” balasku menimpali.
“Ah, enggak usah. Ini aja!” ucapnya lagi, lebih serius.
“Ya udah.” jawab gue nyerah. Latihan dilanjutkan, selama 3 minggu kami berusaha mencari waktu-waktu kosong. Berharap lebih banyak guru tidak mengajar di kelas, lantaran kami tak bisa menggunakan waktu seusai sekolah. Terlalu banyak problem, ada tentang urusan keluarga, mau hujan, dll. Tak gampang untuk mengatur dan mengurus sekitar 16 orang dalam satu kelompok, hal itulah yang gue rasakan. Masih banyak yang egois, seperti yang lainnya serius, ada yang enggak serius, dll. Tetapi, hal itu bisa dima’lumi, namanya juga pelajar biasa.
“Belle! Panggil gue Belle!” ucap Sarah, salah satu anak tercerewet dan terganas di kelas gue. Tampaknya, giginya yang dikerangken dengan kawat tak membuatnya menjadi gadis yang pendiam, malah sebaliknya membuatnya semakin berisik, walau tak seberisik Syifa.
“Ah, serius coba, Rah!” ucap gue emosi. Tak menggubris keinginannya.
“Belle!” ucapnya lagi, singkat tapi keras. Kutatap sosok anak satu itu, cukup keras kepala. Akhirnya, gue mengalah.
“Ya udah, Bellek! Cepet masuk barisan!” balasku agak ketus.
“Ihihihi, Belle.” balasnya kegirangan, tetapi tak bertahan lama lantaran perkataan yang diucapkan Rani setelah itu.
“Hoi, Rah! Irvan itu bilang ‘Bellek’, bukan ‘Belle’!” ucap Rani, memperkeruh suasana.
“Aaaaaaaaah, Belle!” teriakku kesal, mampus dah.
“Ahihihhii, Belle.” sahut Sarah, kegirangan.

Sedangkan untuk kelompok 2, kelompok Matbisri dkk, berjudul Roro Jongrang. Walau gue tak tahu bagaimana sistem mereka berlatih, tetapi pada dasarnya bagus, dan itu terbukti saat pentas berlangsung.
“Ayo nah, kita latihan!” pinta Ria kepada teman sekelompoknya, kebetulan gue mendengarnya. Lantaran pembicaraan mereka masih dalam ruang lingkup kelas.
“Bentar. Naskahnya belum kelar, Ria.” balas Reitisa, terus menerus mentraslet naskah yang ada.
“Nanti Oyi yang kasihkan ke Miss Leny ya,” pinta Ria ke Oyi yang sedang asik mengobrol dengan Hario.
“Iya, gampang.” balas Oyi singkat dan kembali berbicang dengan Hario. Dan begitulah yang terjadi, sama halnya dengan kelompok gue.

****

Pentas pun tiba, persiapan dilakukan dengan sebaik mungkin. Menyiapkan property, sounds, kostum, dan yang lebih penting ialah mental dan kesiapan kami. Di kelompok gue, gue hanya menajdi pengatur music dalam alur cerita. Miss Leny telah datang. Tak lama diikuti oleh siswa-siswi di sekolah, khususnya kelas X.
“Asid, nikahi aku!” panggil Dinda saat memakai dress putih untuk tokoh Cindejanda yang akan diperankan oleh Zhafira. Bisa dibayangkan, ukuran tubuh Dinda yang cukup gendut membuatnya sulit untuk memakai dress itu secara seutuhnya. Wong buat Zhafira saja, gue harus merobek jahitan yang mengecilkan ukuran dress itu. Hal itu membuat tawa kami semua, anak XI Bahasa.
“Ya Allah, can I be happy?” ucap Rani seraya terduduk di bawah panggung dengan wajah yang murung. Teks itu bukanlah teks buatnya, melainkan teks untuk Zhafira sebagai Cindejanda. Rani merasa terpukul lantaran dress yang ia dapat tidak sebagus dress milik Zhafira, Sarah sebagai ibu tiri, atapun pasangannya Rani, si Ani sebagai kakak tiri.
“Rani!!! Jadi mau pakai dress yang mana? Ahahak” ucapku bingung, dan menahan ketawa.
“Dressnya Ani bagus, curang! Hiks.” balasnya Rani, masih ngambek. Merasa percuma, akhirnya gue berbicara sebentar dengan Ani. Ani paham, untungnya ia telah membawa dress miliknya sendiri, walau tak semegah dress yang kubawakan.
“Ya udah, dress Ani buat kamu aja. Ani bawa dress lain kok.” ucapku ke Rani, dan seketika itu juga, Rani langsung berdiri dan berjingrak kegirangan. Layaknya anak kecil yang baru dikasih mainan dari Pa’le depan SD.

Pentas dimulai, Zhafira awalnya memakai daster lusuh seraya membersihkan area sekitar panggung. Seolah-olah sedang membersihkan rumah, datang Ani dan Rani mengggunakan kostum kebaya merah, cocok dengan perwatakan yang mereka dalami.
Tak hanya kelompok gue, kelompok II yang berisikan Ria, Matbisri, Oyi, dll menceritakan kehidupan adat timur Roro Jongrang, berbeda sekali dengan kami yang berkiprah ke arah barat. Kostum yang dikenakan Oyi begitu cocok dengan peran yang ia lakonkan sebagai Bandung Bondowoso. Diserati kostum ungu yang dipakai Ria sebagai tokoh Roro Jongrang.
Gue begitu puas, dan yang lainnya pun puas. Termasuk para penonton, drama kami mendapat kredibilitas A, lantaran ini drama yang menarik, dan terbaik. Seusai drama, terasa begitu nyaman, dan asik. Bagaikan dalam sebuah festifal, hampir semua pemain menggunakan kostum yang berbeda. Walau ada yang menggunakan kostum biasa, seperti gue menggunakan almamater ataupun Reitisa dan Farah yang menggunakan seragam putih-putih. Kebersamaan terasa begitu kuat, dan gue akui itu. Berharap kebersamaan akan terus menguat, sekuat ikatan kami sebagai sesama saudara sekelas.

****

Tak hanya drama atau tugas yang membuat kebersamaan kami semakin terasa. Moment kebersamaan kami terjadi saat kami menjenguk wali kelas kami, Bu Ivone yang di rawat di Rumah Sakit Islam.
Malam itu, gue sedang asyik online sebagaimana biasanya. Sebuah sms memecah konsentrasi gue, sms dari sahabat gilaku, Fajar.

Sms pun berakhir untuk sejenak, untuk lebih menguatkan lagi, gue coba buka facebook dan mengunjungi profil Ibu Ivone. Ternyata benar, dari status yang beliau postingkan, dan koment-koment yang ada menujukkan Ibu Ivone sedang sakit dan di rawat di Rumas Sakit Islam. Selain itu, informasi yang membuat gue tak kalah terkejut ialah info mengenai Sir Awi, guru bahasa Inggris di sekolah, di rawat di rumah sakit pula. Kucoba memberi kabar duka tersebut ke Fajar.

Besoknya, melalu Ani Mahalia, disampaikanlah kabar itu ke seluruh anak XI Bahasa. Akhirnya sepakat, sepulang sekolah, habis dzuhur, yang tidak menonton DBL, bisa ikut menjenguk Bu Ivone. Gue dan Wildan medapat tugas untuk membeli buah, sedangkan U’ud dan Yaya mengurus mengenai bunga untuk ibunya.
“Dimana garang kamar Ibunya?” Tanya Onor kesal, lantaran kita telah mengitari rumah sakit itu, tetapi tidak menemukan Pavilliun Angsana, tempat Ibu Ivone di rawat.
“Sabar, Nor aii. Lokasinya berubah.” sahut Dinda menenangkan.
“Itu Pavilliunnya!” teriak Syifa seraya menunjuk-nunjuk tangga yang menanjak. Melihat itu, kami bergegas menuju arah itu, agag naik ke atas, dan agag memutar.
“Assalamu’alaikum.” ucap kami bersamaan, saat memasuki ruangan Ibu Ivone, ruang nomor 11. Kesan awal yang gue rasakan ialah, ini kamar yang mewah. Terlintas di pikiran gue, pasti mahal ruangan ini. Terbagi menjadi 3 bagian, pertama bagian tamu lantaran terdapat beberapa sofa seolah-olah digunakan untuk tempat tamu, kedua bagian perawatan, tempat Bu Ivone berbaring, dan mewahnya, terdapat kulkas, televisi, lemari dll. Dan cukup lebar. Terakhir adalah dapur disambung dengan toilet yang cukup luas, ber-AC pula ruangannya. Adem wae, enak tenan.
Setelah berbasa-basi sedikit dengan Ibu, pembicaraan semakin melantur, menjadi olok-olokan, antara Syifa dan Onor. Keadaan menjadi hangat dan ramai, bahkan terkesan sangat ramai. Gue memang lebih banyak diam, hanya memperhatikan, lantaran gue berpikir, betapa beruntungnya gue masuk ke kelas ini.

Pilu atau bahagia tak menentu..
Di rungan itu semuanya telah terjadi.
Kadang ketidakadilan memuncak ditempat itu.
Amarah, canda, ataupun tawa.
Bahkan tangisan tak terduga,
tak pernah luput..
Mengutuk keegoisan kami.
Karna kami seolah simphoni.
Simphoni yang kekal bernama Bahasa..

(Simphoni Pasukan Bahasa – Irvan Ramdanie dkk Bahasa)

Categories: Cerita Gue, Simpone Bahase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: