Biografi Raihana : Kisah Kasihnya

Biografi Tokoh
Oleh Irvan Ramdanie
XII Bahasa
Madrasah Aliyah Negeri 2 Samarinda

Kisah Kasihnya

Raihana memutuskan untuk mengakhiri masa lajangnya di usia yang sangat belia, yaitu 12 tahun. Keputusan ini dipilihnya karena berbagai alasan yang tidak dapat ia tolak ataupun ia pungkiri. Alasan pertama yang begitu berpengaruh ketika Raihana mengambil keputusan itu ialah ibundanya sendiri. Ia sadar dan tahu, ibundanya begitu dekat dengan pemuda yang meminangnya itu. Sehingga, rencana pernikahan itu sangat didukung oleh sang ibu. Alasan kedua, Raihana tidak ingin menjadi beban untuk keluarganya.

Sebagai anak ke-2 dari 7 bersaudara, Raihana sadar biaya hidup di keluarganya sangat tinggi. Terlebih ke 5 adiknya masih kecil, 3 diantaranya belum bersekolah. Sedangkan kakak tertua, hanya berselisih 2 tahun dari Raihana sendiri. Saat itu, ia memiliki konsep harus menjadi tulangpunggung keluarga atau ia harus bisa mengurangi beban tanggungan ayah dan ibunya. Tetapi, ia sadar pada umur yang sangat muda ini, ia tidak bisa menghasilkan uang secara maksimal. Lantas, baginya dengan cara menikah dapat membantu meringankan tanggungan kedua orangtuanya.

Raihana awalnya enggan, bahkan merasa khawatir dengan pernikahan itu. Karena ia tahu, ia menikah dengan seorang duda berumur 22 tahun, berjarak 10 tahun dengan dirinya sendiri. Tetapi, takdir telah berkata demikian. Tahun 1978, diadakanlah sebuah pernikahan sangat sederhana antara Raihana dan Kardiansyah. Pernikahan diadakan di Samarinda, tepatnya di Jalan Rwirahayu pada kediaman Raihana dan keluarganya.

Awal-awal pernikahannya dilalui dengan kegelisahan dan kebimbangan. Ia merasa tidak siap dengan semua ini. Pertama, karena ia merasa belum cukup umur. Kedua, yaitu inti dari semuanya, ketika ia mengetahui bahwa suaminya telah menikah dan bercerai sebanyak 3 kali. Meski kaget, Raihana tidak terlalu mengambil pusing atas itu. Baginya, asalkan ia tidak lagi menjadi beban keluarga, hal itu sudahlah cukup membahagiakannya.

3 tahun setelah pernikahannya, 1981, ia hamil dan kemudian melahirkan seorang bayi laki-laki pada usia kandungan kuranglebih 9 bulan. Bayi tersebut diberi nama Alfian. Sayangnya, putra pertamanya itu, meninggal pada usia 1 bulan dikarenakan demam tinggi. Raihana cukup terpukul, karena sebelumnya ia cukup gembira dan menyayangi anak pertamanya itu. Ia tidak menyesal dan bersedih secara berlebihan atas meninggalnya putra pertamanya itu, tetapi hal lain yang membuatnya begitu kecewa, yaitu suaminya.

Saat itu, sekitar sebulan sebelum kelahiran Alfian, Kardiansyah pergi dari rumah dengan alasan mengunjungi ibunya yang sakit di Nagara, daerah provinsi Kalimantan Selatan. Raihana sempat menolak keinginan suaminya itu, karena ia khawatir proses kelahiran bayi pertamanya sudahlah dekat. Tetapi suaminya begitu keras dan Raihana tidak sanggup menahan amarah suaminya. Dan hingga Alfian meninggal dunia, suaminya tidak kembali ke Samarinda, bahkan menghubungipun tidak ada. Kemudian, berselang 2 minggu setelah meninggalnya Alfian, barulah suaminya datang tanpa perasaan bersalah sama sekali. Seusai itu, Raihana ingin sekali berpisah dengan Kardiansyah, tetapi keinginannya itu selalu tertahan karena alasan dan kondisi yang sampai kini ia tidak mengerti.

Sekitar 2 tahun kemudian, awal bulan Maret tahun 1982, Raihana hamil dan pada usia kandungan mencapai 11 bulan, tahun 1983, lahirnya seorang bayi laki-laki lagi, kemudian diberi nama Iriyan Gunawan. Kondisinya saat hamil dan melahirkan itu tidak jauh berbeda dengan kehamilan pertamanya, yaitu cukup memprihatinkan. Raihana saat itu merawat kandungannya sendirian, tanpa bantuan dari suaminya. Untungnya, ketiga adik perempuannya, Rohimah, Rokiyah, dan Siti Masythah seringkali membantu Raihana dalam mengurus berbagai urusan rumah tangganya.

Trauma atas meninggalnya putra sebelumnya, Raihana saat itu mulai berhati-hati dalam merawat bayi laki-lakinya. Urusan rumah tangga seperti mencuci piring atau pakaian, membersihkan rumah, dsb diserahkan kepada ketiga adik perempuannya. Untungnya lagi, ketiga adik perempuannya telah terbiasa mengerjakan pekerjaan rumah dengan hasil yang baik, meski umur mereka bertiga rata-rata di bawah 15 tahun.

Pada usia 3 bulan anaknya, Kardiansyah kembali ke rumah dalam keadaan tidak bersahabat. Raihana cukup emosi, mengingat suaminya meninggalkannya ketika kehamilannya mendekati proses kelahiran, seperti sebelumnya. Adu mulut untuk kesekian kalinya pun tak terelakkan, dan lagi-lagi, Kardiansyah melakukan tindakan kasar seperti memukul, menampar, bahkan menendang Raihana tanpa belas kasihan. Istilah sekarang yaitu KDRT (Kekerasan Dalam Rumah Tangga). Ketiga adiknya hanya bisa menyaksikan dari jauh, tidak berani berbuat apa-apa, lantaran takut terkena imbasnya juga.
Hari-hari Raihana tidak menjadi baik tiap detiknya. Pertengkaran, adu mulut, adu fisik tidak pernah absen tiap minggunya, bahkan tiap harinya. Terkadang, Raihana memilih lari ke rumah orangtuanya, dalam arti memohon perlindungan dan ketenangan. Tetapi, Kardiansyah selalu bisa membawanya pulang dengan paksa. Ayahnya Raihana, Muhammad Sa’id, seringkali mencoba melindungi putrinya, tetapi ia tidak dapat berbuat banyak. Ayahnya itu hanya bisa menyemangati dan meminta Raihana untuk selalu sabar dan berdoa.

Kemudian bulan Desember 1985, anak ketiga Raihana lahir, yaitu seorang bayi perempuan seberat 3,2 kg. Bayi perempuan itu diberi nama Hariati. Dan lagi-lagi, kehidupannya Raihana saat itu tidak jauh berbeda dengan kondisinya saat anak pertama atau anak kedua. Dan berkat bantuan dari saudara-saudaranya yang mulai beranak dewasa, Raihana bisa menjalani kehidupannya bersama kedua anaknya, Iriyan Gunawan dan Hariati, dengan lebih baik.

Kedua anaknya dapat ia sekolahkan mulai jenjang Taman Kanak-kanak (TK) sampai seterusnya. Iriyan Gunawan, berhasil mendapatkan gelar Sarjana Keperawatan di Poltekkes pada usia 22 tahun. Lalu, Hariati, memilih masuk ke pesantren seusai lulus di SMPN 13 Samarinda. Awalnya ia masuk ke Ponpes Putri Az-Zahro, bertempat di Jalan Damanhuri RT 20 No 26, lokasi kediaman Raihana sekarang. Lalu pindah ke Ponpes Kyai Arsyad Al-Banjari selama 3 tahun, dan kembali lagi ke Ponpes Putri Az-Zahro. Usia 18 tahun, Hariati berhasil menjadi Hafidz Al-Qur’an.

Sampai tahun 1994, anak keempatnya lahir dengan berat 2,5 kg dalam keadaan prematur karena usia kandungannya hanyalah 7 bulan lebih. Atas saran keluagranya, bayi laki-laki tersebut diberi nama Irvan Ramdanie Al-Farisy. Keluarganya cukup terkejut awalnya, ketika mengetahui bayi laki-laki itu lahir dengan ukuran yang cukup kecil dan terlihat sangat lemah. Terlebih anak tertua Raihana, Iriyan Gunawan, sempat sulit membedakan antara adik bungsunya dengan bayi kucing yang baru lahir, karena baginya keduanya tidak jauh berbeda.

Saat Irvan Ramdanie beranjak kelas V SD, Raihana memutuskan bercerai dengan suaminya, Kardiansyah. Ia tak tahan lagi dengan semua kekerasan dan keegoisan suaminya itu. Dan setelah berceraipun, Raihana harus merasakan penderitaan yang tidak jauh berbeda karena mantan suaminya itu terus meneror dan mengawasi Raihana dan sekitarnya.

Hingga, suatu hari, Raihana merasa tindakan mantan suaminya itu sudah kelewat batas. Seluruh kaca di rumah Raihana pecah karena lemparan batu oleh Kardiansyah yang marah karena Raihana menerima tamu seorang pria muda, yang sebenarnya adalah anak dari teman Raihana sendiri.

Adik Raihana, Siti Masythah sangat geram lantas memanggil pihak berwajib untuk menangkap Kardiansyah. Lalu, sekitar 3 hari mantan suaminya itu mendekap di dalam sel tahanan sementara atas tuduhan tindakan kekerasan dan perusakan. Sesudah itu, tindakan kekerasan ataupun teror dari mantan suaminya mulai drastis berkurang, meski tidak hilang sepenuhnya.

Dan akhirnya, awal tahun 2006, Raihana menemukan persinggahan cintanya pada seorang pemuda lajang berumur 37 tahun, bernama Agus Likawarwono. Pernikahannya diadakan pada pertengahan tahun 2005, bulan Juli tepatnya di Jalan Karang Asam Gg. 4. Pernikahan dilakukan secara umum dan terbuka, hanya saja dari pihak keluarga Raihana, termasuk seluruh anak-anaknya sengaja merahasiakan pernikahan itu dari Kardiansyah. Alasannya, mereka semua tidak ingin Kardiansyah menggangu acara penting mereka semua.

Dan berselang 2 tahun setelah pernikahan Raihana dan suami barunya, Kardiansyah menemukan pasangan hidupnya pula, meski hanya bertahan sampai tahun 2010. Dan Raihana hidup bahagia dengan suaminya hingga kini. Kedua anak tertuanya, Iriyan Gunawan dan Hariati telah berkeluarga dan memiliki masing-masing seorang putra. Iriyan Gunawan menikah dengan seorang perawat bernama Melfa Tresia Sutrianengsih Sianturi atau kini bernama Mariam Jamilah, dan Hariati Aslamiah menikah dengan seorang hafidz pula bernama Muhammad Hisyam Al-Qudsy. Dan anak bungsunya, Irvan Ramdanie sedang menjalani proses pendidikan di MAN 2 Samarinda.

Categories: Cerita Gue, Ilmu Kesastraan | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: