Simpone Bahase (Kisah Semprul Anak Bahasa) Eps. Cinta = Pembodohan

Part V
Cinta = Pembodohan
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

Hidup tanpa cinta memang bagaikan sayuran tanpa garam. Sayuran tanpa garam memang bagaikan sayuran yang tidak bergaram (sama aja deng’). Kebanyakan remaja menganggap cinta adalah kebutuhan pokok mereka, melebihi Sholat Lima Waktu.
Cinta memang sebagai pengalaman yang penting, tetapi terlalu banyak cinta ialah pengalaman yang enggak penting. CInta yang normal mungkin akan membuat orang semakin dewasa seusai menjalin masa percintaannya, tetapi cinta yang berlebihan atau bahasa gaulnya cinta alay malah membuat suatu kebodohan tersendiri.

“Maaf, Van. Gue musti temenin cewe gue jalan.” ucap teman gue pelan.
“Elo enggak cape? Katanya mau istirahat?” jawab gue heran, karena gue tahu doi lagi enggak fit.
“Enggak apa, kasihan cewe gue.” jawabnya lagi, dengan lesu.
“Tapi KASIHAN ELO DUDUL!” teriak gue dalam hati. “Yodah, hati-hati.” saran gue sok baik, padahal emang baik yo.

Cinta itu buta, buta itu enggak cinta. Cinta membuat orang bisa buta akan segala, contohnya elo bisa ngelupain waktu, tenang, jati diri bahkan warna kesukaan gue (baca : penting enggak seh!)
Cinta = Pembodohan.
Bagi gue itu benar.
Cinta yang berlebih, bisa membuat kita bodoh. Kita enggak bisa menbedakan hal yang benar ataupun hal yang salah. Demi sang kekasih, terkadang kita rela melakukan apapun. Baik BENAR atau BURUK.
Gue pernah mengelami bagaimana dampak dari cinta yang bersifat membodohkan jiwa dan raga. Tapi yang gue maksud bukanlah gue, melainkan teman-teman gue.
Awalnya gue melihat itu hal yang biasa, tetapi lama-lama gue sadar bahwa ini berbahaya. Bagaikan seorang tentara yang merasa ada musuh di dekatnya, gue menganggap hal itu berbahaya. Jadi, mulai saat itu, gue menganggap cinta itu bagai musuh sampai waktu yang gue pun enggak tahu sampai kapan.
Tak hanya itu, gue juga merasakan dampak lain gue rasakan karena cinta itu ialah enggak tenangnya kita sebagai remaja normal. Karena jatuh cinta itu ialah hal yang mengerikan bagi gue, gue enggak bisa tenang, sedikit-sedikit gelisah, dan ngegantung banget. Semua yang gue kerjakan jadi enggak berasa, karena pikiran gue lari entah kemana disebabkan cinta yang hakikatnya buta.

Suatu malam, terjadi sebuah insiden yang membuat gue bimbang dan miris. Gue mendapat kabar yang tak baik bahwa tema baik gue kecelakaan di suatu jalan yang menurut gue udah berbahaya. Sebut saja namanya Dower. (nama samaran)
“Van, gue kecelakaan.” katanya dalam perbicaraan kami di telephone.
“Tapi elo kok masih bisa ngomong? Seharusnya elo kan terbantai enggak sadarkan diri,” tanya gue enggak percaya.
“Ya gue enggak kaya gitu, sem.” Sahutnya lagi.
“Jadi elo kecelakaan dimana? Dengan cewe lu?” tanya gue cepat.
“Iya, dengan cewe gue. Di jalan deket rumah gue itu, Van. Yang jalur panjang itu.” sahutnya lancar, walau gue tahu dia malu mengatakan itu.
“Nasib cewe lu bagaimana? Nasib elu gimana?” Tanya gue agag emosi.
“Cewe gue cuma lecet sedikit, masih mending lah dari pada gue.” Jawabnya sedikit malu dan menyesal.
“Ckckckc, kok bisa? Gue curiga elo pasti pikirannya macam-macam kan.” Tuduh gue, “Iya kan?” sambung gue lagi.
“Kayanya seh. Yah, gue khilaf. Pikiran gue kemana-mana, Van.” Jawabnya sedih.
“Yodah, elo berobat sudah sana.” jawab gue lantang di akhir pembicaraan kami.
“Ya, Van. Udah lah.” Sahutnya.
Dan pembicaraan kami pun terputus. Gue sadar, satu lagi efek dari cinta yang begitu berbahaya. Gue sadar, cinta atau pacaran itu berbahaya.

****

Konflik yang membuat gue benar-benar sadar bahwa cinta itu laksana mesin pembodoh manusia ialah ssat gue kelas 2 Aliyah, tepatnya di kelas 2 Bahasa.
Hari itu, Senin gue lalui dengan biasa. Hari itu ialah hari pertama sekolah gue setelah liburan semester ganjil. Paginya, gue dan rekan OSIS lainnya udah dibuat sibuk dengan mengurus persiapan upacara yang akhirnya enggak jadi dilaksanakan dikarenakan pihak sekolah hanya akan menyampikan beberapa pengumuman.
Bersama Ketua OSIS gue, Angga, kami keliling-keliling area sekolah untuk ngurus berbagai urusan. Artinya kami akan kembali sibuk.
“Kenapa antum gelisah?” Tanya gue berwibawa, sok dewasa.
“Ah, enggak Van. Mau ijin, Van.” jawabnya pelan.
“Oh, mau ke RS kah?” tebak gue.
“Iya, Bapakku enggak ada yang jaga. Cuma Mamaku sendirian.” sahutnya pelan. (lagi)

Hari gue pagi itu begitu indah, dan gue enggak tahu sama sekali nasib gue akan sangat berbeda saat malam harinya. Ckckck.

Rutinitas harian gue saat malam hari tentu saja online, mulai dari facebook, koprol, manga, kaskus, game, dll. Bagi gue hal itu sudah lumayan menghibur dan media pembelajaran (belajar ngenet, belajar ngegame, dll) bagi gue.
Gue online seperti biasa, chat dengan berbagai teman-teman yang enggak gue kenal. Posting status terbaru dan mengomentari status orang-orang yang gue kenal, dengan hinaan dan ejekan yang berstandar tinggi (baca : ngolok abiz gue).
Saat gue sedang asyik-asyik chat, handphone gue berbunyi, tanda ada sebuah sms. Awalnya gue cuekin, karena lebih enggak etis jika gue harus meninggalkan lawan tanding game gue. (baca : sok-sok’an)
“Van, ada sms tuh!” teriak kk gue.
“Hheeeeeeeeeeeeeee.” Sahut gue kalem, cuek.
“Berisik tau! Cepet baca!” teriak kk gue lagi dari kamar sebelah.
“Hheeeeeeeeeeee..” jawab gue lagi, dan lebih cuek.
“Datangi nii lah!” teriak kk gue lebih tinggi.
Daripada menerima resiko kecacatan dini, gue mau enggak mau harus mengambil handphone gue yang terus berdering karena ringtone gue juga cukup panjang dan bising.
Gue lihat layar handphone gue.
Sebuah sms dari Ria, temen OSIS dan sekelas gue :
“Pengumuman, besok libur dan turun hari Rabunya. Oea, Van. Kamu OL enggak? Upload poto OSIS kita, Van. Tag ke q ya? Thanks.”
Berhubung gue sadar bahwa gue enggak punya pulsa, gue memustuskan untuk tidak membalas sms dari Ria. Dan langsung menuju layar monitor gue.

Gue buka akun facebook gue, dan gue lihat beranda di facebook itu.
“Hem, begitu banyak status yang diposting” gumam gue.

Mata gue enggak lama tertuju pada sebuah status yang cukup menyita perhatian. Sebuah status yang berisikan keluhan tentang teguran yang sipemilik akun dapatkan.

Gue berpikir sejenak.

Temen gue yang kebetulan sedang Online di samping gue berkata,
“Widih, serem banget tuh status.” Kata Dimas, temen gue yang sedang Online itu.
“Yaah, begitulah.” Kata gue, bingung mau jawab apa.
“Enggak elo koment? Ngebawa nama OSIS sekolah lo kan?” Tanya Dimas, seraya menggelengkan kepala.
“Bentar. Lagi mikir.” Jawab gue pelan, seraya menahan wajah Dimas yang terus memaksa melihat layar monitor gue.
“Mikir? Mikir apa?” Tanya cepat dan terus memaksa melihat dan ingin mengetik sesuatu di keyboard gue.
“Woi, homo!” bentak gue risih, dan kejam.
“Aseem. Elo yang homo!” jawabnya engga terima dibilangin homo.
“Elo yang deket-deket gue, alasannya mau ngeliat, tapi enggak henti-henti.” Jawab gue, berusaha ngasih alasan yang sekuatnya, walau kuat ngibulnya.
“Azz.. Swt.” Sahutnya nyerah, dengan wajah misuh-misuh.
“Aahahahaha.” Tawa gue meledak.

Setelah mikir-mikir dengan segenap tenaga. Gue menemukan sebuah pencerahan.

Komentar gue seperti ini.

: Anti kan udah kelas X, pasti bisa kan membedakan mana yang baik dan yang benar? Dan bla.bla.bla.
: Endaa bisa kak. Kalau semuanya baik, baru bisa. Dan bla.bla.bla.
: Kalau gitu enggak akan ada habisnya. Dan bla.bla.bla.

Komentar gue cukup panjang, dan berusaha memberikan motivasi dan saran yang setidaknya bisa diterima secara logika dan enggak menyinggung. Dan malangnya, datang sang pacar si pembuat status yang membuat suasana semakin kacau.

: Eh irfan, bacot betul kaw tu. Dan bla.bla.bla.

Habis sudah.
Gue mikir, mampus udah.
Gue mencoba berpikir, antara tetap menesehati atau mendiamkannya.
Jika gue tetap menasehati dan berbicara, gue bisa menjadi perkedel. Kalau gue diamkan, gue belum selesai bicara. Nanti malah banyak yang salah paham. Dan gue tetap akan jadi perkedel.

Gue jawab.

: Enggak, kak. Hanya saling mengingatkan.

Dan gue sadar.

Gue bilang seperti itu, enggak akan berpengaruh banyak terhadap apa yang terjadi. Gue gelisah, karena si “Org itu” mengacam akan menemui gue untuk memberi pelajaran atau meluruskan maksud dari komentar gue. Apapun yang terjadi, gue pikir itu pasti buruk.

Gue putuskan untuk enggak koment lagi. Tetapi gue tetap mengecek apa saja komentar mereka di status itu. Dan keadaannya semakin kacau. Parah banget.

“Ha? Kok kacau gitu, Van?” tanya temen gue enggak percaya.
“Kacau banget!” sahut gue horror.
“Selamat jadi perkedel tulang, Van.” katanya seraya mengajak bersalaman.
“Elo pikir gue baru dapat hadiah kejutan dari acara quis! Gue lagi dapat musibah!” emosi gue dalam hati, “Selamat menyantap!” sahut gue ketus. Dan teman gue tertawa lepas.
“Elo enggak takut?” ledeknya.
“Enggak, biasa aja.” Tanya gue sok berani.

Malamnya, gue enggak bisa tidur.

Gue pusing banget mikirin bagaimana nasib gue pada hari Rabu, akankah gue akan menjadi perkedel atau gue menjadi orang yang mirip perkedel? Bagi gue semua saja aja, sama-sama berbahaya.

Rabu, hari yang bikin gue horror banget untuk turun sekolah. Gue berusaha tegar, tetapi gagal. Tangan gue gemeteran, kaki gue singkal sebelah, kepala gue nyut-nyutan, hidung gue berdarah, sariawan, bibir pecah-pecah, susah buang besar, minum… adem sari (ups, kelewatan deng.)

Gue sampai di depan kelas, dan enggak ada tanda-tanda orang itu. Gue lega, tapi gue tetap misuh-misuh enggak jelas. Gue lakukan aktifitas pagi sebagaimana biasanya.
Tiba-tiba.
“Van!!!!!!!!!!!!!!” teriak seseorang memanggil gue, dan gue kenal suara itu.
“Kenapa, Ria?” tanya gue kalem.
“Kaya apa yok?” tanyanya khawatir.
“Ah, biasa aja. Cuma masalah salah paham kok.” Sahut gue tenang.
“Amin.” Jawab berusaha tenang.

Dan ternyata.
Enggak cuma gue dan Ria yang tahu akan hal itu, para pengurus OSIS lainnya tahu, hanya saja yang berani untuk komentar hanya gue dan Ria.

Hidup gue hari itu benar-benar horror. Lebih horror dibanding saat gue berada di RS. Tetapi gue enggak mau hal itu membuat gue terganggu, gue berusaha menjalani keseharian dengan dengan sewajarnya.

Dan gue berhasil.
Sampai waktunya pulang, sampai beberapa har kemudian, tidak ada tanda-tanda adanya permasalahan diantara kami. Dan gue bersyukur, masalah tersebut enggak sampai terlalu larut.

****

Gue sadar, konflik kemaren tidak lain dikarenakan cinta. Akibatnya, pandangan gue tentang cinta semakin miris. Walaupun gue enggak terlalu memikirkan cinta, tapi gue paham cinta itu penting. Karena cinta pada hakikatnya baik, tergantung dari pemakainya, apakah bisa membedakan antara cinta yang seharusnya dengan cinta yang enggak seharusnya.

Cinta sering pula disamakan dengan kata ‘pacaran’. Sebenarnya sangat jauh berbeda, karena pacaran dan cinta memiliki karateristik dan fungsi yang berbeda. Cinta itu mencakup semuanya, tidak hanya pacaran. Sedangkan pacaran membutuhkan cinta yang sebenarnya, bukan cinta secepatnya.

“Gue pusing, Van!” lirih teman gue pelan saat gue masih kelas IX Tsanawiyah.
“Kenapa?” tanya gue bingung, dan heran.
“Cewe gue. Marah gara-gara gue ketiduran.” Katanya lagi, dan pelan.
“Ha? Ya minta maaf saja.” Saran gue simple.
“Udah, tapi enggak digubris, katanya nanti bisa terulang lagi.” Jawab teman gue, dan dia semakin bingung.
“Ah. Ya pasti terulang lah, kan manusia butuh istirahat.” kata gue sok bijak, enggak tahu nyambung atau enggak.
“Jiah. Kaya elo enggak paham bagaimana sifat cewe aja kalau udah ngambek. Susahnya minta ampun.” Kata temen gue mendramatisir.
“Gue ENGGAK TAHU. OKE!” jawab gue mantab.
“Loh kok gitu? Elo kan….” Langsung gue cegat sebelum doi selesai bicara.
“Eits, jangan bicara apapun tentang diri gue. Oke! Awas kam!” ancam gue tegas.
“Ahahaha. Jadi gimana dong?” tanyanya bingung. Bingung banget kayanya.
“Ya serah lo aja.” Jawab gue pasrah. Karena gue emang enggak jago soal cinta yang begituan.
“Ckckckckckc” jawab seraya menggeleng-gelengkan kepala.

Permasalah cinta itu enggak akan ada habisnya, bisa saja orang yang terlalu terobsesi akan cinta atau lebih spesifiknya disebut pacaran bisa menghabiskan waktu yang dimilikinya dengan sia-sia.

Cinta enggak perlu dicari menurut gue, apabila ada waktunya, cinta pasti datang dengan sendiri. Cinta yang dipaksa bagaikan sebuah tindakan pembodohan.
Why?
Cinta yang dipaksa = cinta yang belum saatnya lebih cenderung bersifat negatif. Cinta bisa membutakan segalanya, karena kita bisa melakukan tindakan yang enggak seharusnya dikarenakan cinta.

Kejadian demi kejadian yang terjadi disekitar gue mengingatkan gue terhadap lagu dari sebuah band dalam negeri yang bernama Marjinal – Cinta = Pembodohan. Saat itu juga, gue bisa mengiayakan pesan dari lagu tersebut.

Pada stress dan nggak sedikit yang gila
Mati mampus minum racun serangga
Gantung diri di pohon jengkol
Nubrukin badan ke bis kota yang sedang mangkal
Lompat melompat dari gedung bertingkat
Karena cinta demi cinta…
Lirik lagu tersebut benar-benar pas untuk menggambarkan betapa mirisnya cerita percintaan remaja zaman sekarang. Gue sekarang jadi sadar, cinta bisa membuat kita melakukan pembodohan.

Cinta = Pembodohan.

Ada benarnya.

****

Categories: Cerita Gue, Simpone Bahase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: