Simpone Bahase (Kisah Semprul Anak Bahasa) Eps. Matematika Gilak, Fisika Apalagi!!!

Part I
Matematika Gilak, Fisika Apalagi!
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

Banyak hal yang gue takutkan selama hidup ini : bencong, org maho, gosok gigi pake biore, dll. Semua hal itu gue takutkan, entah karena apa, gue pun tak tahu. Dan satu hal, gue enggak mau sampai hal itu terjadi.

Dan hal lainnya yang tak kalah gue takuti ialah ketemu pelajaran yang sulitnya minta ampun, sampai-sampai gue menyerah lepas tangan atas pelajaran itu. Dan pelajaran yang beruntung pada cerita ini ialah : Matematika dan Fisika. Selamat yaah, pasti senengkan jadi nominasi pelajaran tersulit buat gue. Iya kan? Iya kan aja ya.

Dan gue herannya, ketakutan itu selalu seru untuk diceritakan, baik dari segi apapun. Walau hal ini ketakutan yang tidak terlalu menakutkan, tetep saja seru diceritakan, Mau diceritakan secara ramai-ramai, diam-diam, atau diam-diam enggak cerita (ya percuma deng’), tetap saja seru.

Tepat sekali dengan topik cerita ini. : “Matematika Gilak, Fisika Apalagi!”
Why?
Yup, itulah yang gue rasakan.

Sewaktu kelas X, awalnya gue menganggap semua pelajaran itu mudah, asal kita menganggapnya mudah dan serius dalam mempelajarinya. Tetapi, setelah gue bertemu dengan yang namanya Matematika dan Fisika. Gue sadar bahwa hal itu kurang pas tanpa dibarengi dengan keberuntungan.

Why?

Karena gue udah berusaha sekeras mungkin, tetapi enggak terlalu membuahkan hasil. Gue sadar satu hal : Gue enggak punya talent sama Matematika dan Fisika.

“Van, kenapa elo diam?” tanya Irwan, temen sekelas gue yang memiliki pamor yang tinggi lantaran kembaran sama Oni si pemain “Tuyul & Mba Yul”.
“Oh, enggak apa.” sahut gue berusaha kalem.
“Elo enggak ngerti soal itu?” tanya dia tepat sasaran.
“Oh, enggak. Ini soal gampang kok.” kata gue ngeles, mampus dah.
“Ah yang bener?” tanyanya lagi dan jelas sekali dia meragukan perkataan gue.
“Iya. Gue yakin, Waaaan!” sahut gue maksa. “Aseeem kamu, Wan. Aseeem!” emosi gue dalem hati.
“Oh gitu. Gue kira elo enggak paham.” sahutnya datar tapi dengan tatapan mencurigakan.
“Oh gue jug…..” kalimat gue terpotong oleh perkataan Irwan lagi.
“Seandainya saja elo mau, Van. Ya gue liatkan aja jawaban gue, soalnya sebentar lagi kan di kumpul.” sambungnya lagi.

Bocah satu ini memang terkadang baik, tetapi baiknya dalam sikon yang tidak mengharuskan ia berbuat baik.
Dan mampus lah gue, waktu udah mepet. Dan gue terlanjur bersikap sok hebat. Ampuni hamba Ya Allah. Ampuni kesalahan hamba Ya Allah. Itu baru keseharian gue, belum termasuk moment-moment gila seperti ulangan, semesteran, apalagi UN.

Ampun sudah.

“Untuk ulangan besok, pelajari halaman ini ini dan ini.” perintah Bu Muwahidah, guru Matematika di kelas gue yang baik hati tapi pelajarannya tak baik hati.
“Iya, Bu..” sahut satu kelas kompak, kecuali gue.
“Ibu enggak terima alasan besok ya, pokoknya besok Ujian. Oke?” perintah ibunya lagi.
“Iya, Bu.” sahut satu kelas kompak lagi.

Gue berharap ada suatu keajaiban yang turun saat itu juga sehingga membuat ulangan matematika besok hari menjadi tertunda, kalau bisa tiada.
Tetapi..
Gue tunggu..
5 detik…
10 detik…
1 menit…
5 menit…
Hasilnya nihil.
Gue down, gue lemes.

Ting.tong.
Waktu pelajaran telah berakhir.

Jam Bu Muwahidah pun berakhir, dan berakhir pula jam pelajaran pada hari ini. Seusai memimpin doa pulang, gue enggak langsung berdiri dengan semangat layaknya teman-teman lainnya.

Reitisa, temen sebangku gue saat itu, menyadari keganjilan yang terjadi.

“Elo kenapa, Van?” tanyanya sok manis, dan enggak cocok sama sekali. (ampun)
“Oh, enggak apa.” jawab gue sok tegar, nyatanya? Gue menangis meraung-raung dalan benak yang perih.
“Oh, kirain elu down gara-gara besok ulangan.” tebaknya pintar.

Dan tetap sasaran.

Gue mencoba berpikir sejenak, apa yang harus dilakukan? Rasa heran dalam benak ini tak menentu, membingungkan. Lantas gue berpikir kembali, gue dapatkan satu hal :

Why all my friends always honesty? (terjemahan : silahkan buka kamus, oke)

“Ya enggak lah.” Sambung gue berusaha ngeles lagi. “Insya Allah gue bisa kok.” kata gue sok tegar.
“Bagus deh, jadi gue bisaaaa….”
“Bisa apanya?” tanya gue curiga memotong perkataannya. Gue tahu kebiasaan Reitisa. Anak satu itu tak jauh berbeda dengan Irwan, suka berbuat baik dalam kondisi yang tidak mengharuskan dia berbuat baik. Sebelum terlanjur menangis darah, atau menggigit meja lantaran jari telah habis digigit, gue harus antisipasi dengan apa yang ia ucapkan.
“Bisa ngeliat jawabanmu, ahhihiii.” sahutnya enggak berprikemanusian. Ingin matikah dia? Melihat jawaban kepada gue?
“Oh, silahkan saja!” sahut gue yakin.
“Ah yang bener?” katanya tak percaya.
“Iya, silahkan saja.” balas gue seraya tersenyum lebar banget. “Silahkan saja Rei, silahkan saja. Selamat menerima hasil yang sangat tidak memuaskan jika kau melihat jawabanku besok. Yes, punya teman. Ahahaha.” gumam gue kegirangan dan tak berperasaan.
“Sankyuu.” sahutnya girang, girang banget.
“Yoa.” balas gue singkat dan berlagak sok keren. Gue tertawa, puas banget, entah apa yang terjadi, tetapi dapat gue asumsi satu hal : mungkin sewaktu masih bayi, dia menyusu kepada mamalia yang salah sehingga bias terjebak oleh orang seabrek gue.

****

Malam sudah menunjukkan pukul 20.25 WITA, tetapi tidak ada yang kulakukan untuk persiapan ulangan besok. Hati gue sudah terlajur kecewa, gue merasa Matematika ataupun Fisika bukanlah jodoh yang pass buat gue.

Gue lirik hape butut yang tergeletak tak berdaya di pinggir jendela kamar yang berdebu. Tak ada satupun sms atau telp yang masuk ke hape itu. Entah karena apa, gue tak tahu. Ada secercah keinginan untuk mendengar handphone itu berdering, berharap ada sms atau informasi mengenai ulangan besok. Tetapi, nihil. Tak ada hal seperti itu.

Merasa percuma dengan tindakan berdiam dan bermalas-malasan seperti ini, gue menguatkan tekad untuk belajar. Gue enggak mau dipecundangi oleh Matematika, secara gue adalah pecundang yang perkasa. (Astagfirullah)
Buku udah siap di meja kecil, pulpen sudah siap, hape udah di non-aktifkan, dsb yang berhubungan dengan persiapan, udah gue lakukan.

“Bismillahirrahmanirrahim…” lafal gue dalam hati.
Mantabkan hati dan keyakinan, gue buka buku paket Matematika. Ternyata, tanpa diduga-diduga, tanpa dikira-kira, tanpa dia-dia (apasih!), terjadi suatu kejadian yang sangat janggal. Tangan gue bergetar, lantaran hati gue mulai syok abs. Sehebat ini kah aura buku matematika? Mata gue silau melihat tulisan dan angka-angka yang memjamur di setiap sudut dan halaman dibuku itu.

“Buset dah, silau banget.” gumam gue.

Sebenarnya semua orang juga tahu, bahwa sebuah buku matematika yang sangat lemah dan dapat dibinasakan dengan sekali baker tentu tidak akan bisa mengeluarkan cahaya layaknya tokoh-tokoh superhero. Hanya saja halusinasi gue yang berlebihan membuat hal itu seolah nyata dan sangat mengerikan.

“Lagi apa, Van?” tanya mama gue mendadak. Dan itu telah membuat konsentrasi yang gue kumpulkan secara susah payah selama bermenit-menit sirna dalam hitungan detik. Makasih, Ma. Makasih.
“Belajar, Ma. Besok ulangan!” sahut gue singkat.
“Oh, belajar, ya sudah. Tapi tumben Mama lihat kamu belajar.” ucap mamaku santai seraya meneruskan pekerjaan beliau, memasang manik-manik di baju kebaya yang mama beli tadi pagi di pasar.
“Ah, Mama bias saja. Sering kok Ma.” balas gue singkat dan berusaha tersenyum.
“Lagi apa kamu, Pan?”tanya Ka Iyan, kakak sulungku ketika ia masuk ke ruang keluarga. Tampaknya ia heran melihat apa yang gue kerjakan. Yah, geu akui. Selama di rumah, lebih sering gue online daripada belajar. Mungkin itulah yang menjadi tolak ukuran anggota keluarga gue untuk mencap gue jarang belajar.
“Belajar. Belajar!” jawab gue agak cetus.
Gue terlalu bingung, apakah gue belajar ini terlalu aneh buat mereka semua? Bukankah ini baik untuk gue dan semuanya? Apakah ini terlalu aneh buat gue?

Survei mengatakan : Iya.
Dan gue kembali meratapi nasib.

****

Malam itu pun berlalu dengan tragis, gue tidak dapat memahami setiap butir angka dan soal yang ada. Otak gue overload. Semakin banyak soal yang gue baca, semakin banyak soal yang tidak gue mengerti. Gue misuh-misuh, berusaha mencari inspirasi dalam mengerjakan soal-soal mengenaskan seperti ini.

Merasa enggak berhasil mengerjakan soal yang ditargetkan, terlintas dipikiran gue untuk mencoba meminum obat tidur agar besok hari memiliki alasan untuk enggak mengikuti ulangan lantaran tertidur saat belajar. Walau terlihat sangat mustahil, gue tetap enggak menyerah.

“Ma, ada punya obat tidur enggak?” tanya gue seraya membongkar-bongkar isi lemari kaca.
“Ha? Apaan?” mama gue bertanya balik.
“Obat tidur, bukan racun tikus.” jawab gue singkat seraya terus mencari.
“Oh, enggak ada.” jawab mamaku santai.
“Iya kah?” tanya gue enggak percaya.
“Iyalah.” sahut mama gue yakin.
“Beneran ini, Ma?” tanya gue semakin enggak percaya.
“Iyaaaaaaa.” teriak mama gue, “Emangnya untuk apa, Pan?” tanya mama gue bingung.
“Engga apa, Ma. Buat ngasih kucing, berisik banar.” sahut gue nyari alasan. Padahal dengan jelas di rumah gue tidak memelihara kucing yang berisik atau hewan peliharaan lainnya yang ikutan berisik. Bukannya kami tidak sayang hewan, bahkan ini demi kebaikan hewan itu sendiri untuk tidak kami pelihara. Soalnya, seperti siatusi di rumah raditya Dika (seorang penulis hebat tapi banyak tapinya :p ) terakhir kali kami memelihara hewan, hitungan satu minggu, jasad hewan itu sudah ngambang di parit depan rumah.

“Ya udah, pake racun tikus saja.” kata mama gue beri saran, walau terlihat sangat tidak manusiawi.
“Terlalu bagus, Ma. Lagian, kalau dipake, belinya jauh.” sahut gue dengan maksud membela nyawa si kucing atau hewan yang ada, walau kalimatnya enggak pas untuk dikategorikan membela kucing atau hewan yang lainnya.
“Ya terserah ikam aja!” kata mama, dan kemudian kembali meneruskan pekerjaannya.

Setengah jam enggak berhasil menemukan obat tidur, mau enggak mau, suka enggak suka, gue mesti gagalkan misi gue untuk meminum obat tidur. Dan gue mesti kembali berkutat dengan buku pelajaran itu. Oh no!

Entah kenapa, saat gue mencoba untuk kembali belajar, ada hal yang aneh terjadi.
Cahaya silau yang ditimbulkan oleh lemabaran-lembaran soal yang gue baca membuat kedua mata gue menjadi sangat berat dan kian berat.
Dan akhirnya…
Kejadian yang tak diinginkan terjadi juga..
Gue tertidur…
Gue tertidur…
Oh tidak…

****

“Huaaaah emmm..” gue menguap dan terbangun dari tidur yang tak dinginkan.

Gue lirik sebuah jam tua di kamar gue, tepat jam 3 pagi. Wedeh, gue tertidur boo. Enggak tahan banget. Selama setengah jam gue harus mengumpulkan nyawa-nyawa gue yang terbung entah kemana selama gue tertidur. Dengan segenap kekuatan yang jumlahnya bisa dibilang enggak banyak, gue mencoba menyiapkan hal-hal yang diperlukan besok hari.
Seusai itu, gue mencoba mengecheck hape butut gue. Dan tampak sebuah sms dari nomor yang tidak gue kenal.
From : 0852476543xx
“HeIiZ, LeeHhhhgh eNnGaaKk kEnnHaKLLLaaaan? KmuuH cWoo kaAAnn?
Mulut gue misuh-misuh ngebaca itu sms. Sumpah alay banget, masa gue harus bales :
“IyyacHhh, gUe CwoooKek”
Sumpah enggak banget.
Gue tadinya super masih mengantuk.
Menjadi super tidak mengantuk.
Gue manyun.

Merasa kembali mengantuk, gue putuskan untuk kembali tidur.
“Masih jam 3.15 pagi.” gumam gue, “Masih ada waktu untuk tidur.”
Dengan bermodal sebuah mp3 yang isinya berbagai macam surah-surah pendek Al-Qur’an (kebetulan), gue mulai memejamkan mata.
Doa tidur kembali gue lafalkan dalam hati yang suci (baca : impossible).
Akhirnya…
Gue kembali tertidur…
Ke alam mimpi gue yang seharusnya indah. (fakta : kelam).

Paginya, udah bisa ditebak. Tiada semangat, tiada gairah ataupun hal lainnya. Lesu dan lunglai, tak tampak kehidupan di dalam diri gue. Gue sadar hidup gue akan berakhir pagi ini, tamat dengan ending yang enggak keren sama sekali.
Gue mampus karena :
“Kehabisan darah gara-gara Ujian Matematika”
Menurut kalian?
Keren atau enggak?
Jawabannya : Enggak keren sama sekali.

Pemandangan yang gue temui di kelas tadi ialah pemandangan yang paling mengerikan yang pernah gue lihat dan rasakan. Kelas begitu sunyi dan sepi, padahal tidak ada guru sama sekali di kelas gue, dan ini belum masuk jam pelajaran.
“Udah sampai halaman berapa?” tanya gue basa basi ke salah seorang teman gue yang tampak sedang konsentrasi dengan lembaran-lembaran soal.
“Belum sama sekali.” jawab temen gue santai.
“Ha?” tanya gue lagi. Sedikit enggak percaya, dan senang sekali.
“Iya, males belajar. Bikin mataku berair aja.” jawabnya santai disertai mulut misuh-misuh.
“Oh, sukses aja ya.” sahut gue tersenyum bangga.
“Ha? Apaan?” tanyanya bingung dengan wajah ketus.
“Ah, lupakan.” ucap gue santai, “MENURUT LO?” gumam gue nyolot dalam hati.
Gue coba bertanya kepada Dodi, teman sebangku Irwan yang dari tadi terlihat sangat serius memandangi dan mengerjakan soal-soal yang tertera indah dalam buku-buku yang jahanam (maap, keceplosan).
“Dod, sampai halaman berapa?” tanya gue berpura-pura.
“Hemm.” sahutnya sok kalem dan sok sibuk. Asem.
“Ah, cape. Wan, pelajari sapai halaman berapa nah?” tanya gue ke Irwan, karena merasa bertanya ke Dodi bagaikan bertanya ke Kakek-kakek bangkotan yang kerjaannya diam dan duduk di kursi goyang bahkan enggak akan bergerak walaupun rumahnya kebakaran.
“Heh.” sahutnya enggak berperasaan, sama seperti Dodi.
“Hei, asem. Gue serius.” maki gue.
“Dari halaman 25-46, yang sebelumnya enggak keluar.” jawabnya terburu-buru.
“Oh, gue pelajari sebelumnya juga Wan. Astagfirullah.” jawab gue menyesalinya. Untuk kali ini, gue enggak bohong, gue tadi malam mempelajari halaman sebelum 25, yaitu halaman 1 dan 2.
“Ya udah. Enggak apa. Lebih baik lebih dari pada kurang.” sarannya sok bijak. Nyatanya, yang gue pelajari adalah mines, mines banget.

Ting.tong
“Jam pertama akan dimulai 5 menit lagi.”

Bel berbunyi.
Mampus dah.
Waktu kematian gue semakin dekat.
Pembicaraan gue dan Irwan terhenti gara-gara bel tersebut. Sudah waktu membaca berdoa bersama. Gue memimpin doa di kelas, kami semua khusyuk berdoa demi kesuksesan dalam acara ini.
Perlu diketahui, gue yakin dengan sangat yakin bahwa enggak semua orang di kelas gue belajar dan paham. Matematika, woii. Susah tauk!

Kita semua tegang.
Kita semua bimbang.

Waktu 5 menit telah berlalu, rasanya seperti setahun. Lama banget. Sumpah.

“Ibunya kok lama ya?” tanya Afdal gelisah.
“Telat mungkin.” sahut Mba Fity, teman sebangku Afdal.
“Atau jangan-jangan enggak datang? Rumah Ibunya kan jauh.” celetuk Seruni. Dan itu yang gue tunggu. Amin. Amin.
“Enggak boleh seperti itu. Cape-cape kita belajar, nyatanya enggak jadi ulangan. Kan penghinaan itu.” sahut Irwan sok hebat.
“Irwan, elo itu paham enggak sih, ini ulangan yang sama seperti kiamat, kiamat Wan.” teriak gue dalam hati. “Parah lo, Wan!” teriak gue lagi, tetap dalam hati.
“Tapi, Wan. Gue itu masih enggak paham. Ibunya jelaskan cepet betul. Sumpah.” bela Reitisa.
“HIDUP REI. HIDUP REI.” dukung gue dalam hati berkoar-koar.
“Gue juga.” si Afdal mengiyakan.
“Gue cinta kalian semua, kecuali kamu Wan!” teriak gue lagi dalam hati.
“Pokoknya ulangan-ulangan!” teriak Irwan enggak tahu malu.
“Huuuuu..” sahut kompak sekelasan. Arti tidak setuju.

Sampai kami berdebat selama setengah jam, tidak ada tanda-tanda munculnya Ibu Muwahidah. Gue saja sempet bingung. Soalnya, andaikata Ibu Muwahdiah telat, dan ulangan tetap diadakan, maka waktu yang kami miliki untuk mengerjakan (dan menyontek) akan semakin berkurang. Gue enggak mau itu terjadi.

“Maaf Ibu terlambat.” ucap Bu Muwahidah seketika seraya masuk ke kelas secara terburu-buru.
Melihat ibunya datang.

Gue nyesel dan sedih, terlebih karena penyekit eplipesi gue enggak bisa kambuh di saat-saat genting seperti ini. Mampus gue.
“Assalamu’alaikum Wr.Wb.” seru Ibunya.
“Wa’alaikumsalam Wr.Wb.” jawab kami lesu. (baca : kami stress)
“Oke, semua buku berhubungan dengan Matematika, tolong di simpan dalam tas dan tasnya dikumpul di depan. Cepat! Kita enggak punya waktu.” Perintah Ibu Muwahidah.
Kami pun mau enggak mau harus menuruti perintah ibunya, karena walaupun kita menyimpan buku Matematika atau sebuah kamus kumpulan rumus, tetapi enggak akan ngefek bagi kami. Wong kami enggak ngerti. Enggak ngerti.
“Silahkan kalian catat soal ini. Ibu akan tuliskan di papan tulis!” perintah ibunya lagi tidak berperasaan.
“Iya, Bu.” sahut yang lain kompak, kecuali gue yang mengucapkannya enggak sepenuh hati.
5 soal bercabang gue dan teman-teman tulis. Dan kami hanya memiliki sisa waktu sebanyak 65 menit untuk mengerjakan 5 soal bercabang itu, walau terlihat mustahil tetapi gue enggak menyerah untuk mengerjakannnya. Walaupun gue payah, gue enggak mau payah total. Enggak mau.

Gue mencoba melihat soal-soal yang ada di lembar kertas gue, sekali lagi gue katakan mencoba melihat, bukan mengerjakan. Dan setelah gue lihat dan saksikan.

Dari semua soal yang ada, gue ENGGAK NGERTI SAMA SEKALI. Wow? Hasil yang sangat menganggukan. Plok plok plok.
“Huuuhhhhhh hhhh hhh” keluh gue pasrah. Gue jadi semakin enggak bersemangat, enggak bergairah, dan gue pasrah abis dengan apa yang akan terjadi terhadap gue.
Si Reitisa yang kebetulan sedang asyik mengerjakan soal ternyata merasakan keganjilan yang terjadi terhadap gue.
“Kenapa, Van? Enggak ngerti ya?” ledeknya.
“Hooh.” sahut gue polos dan lesu.
“Elo kerjakan saja dulu. Nanti gampang aja kita gabung jawaban.” sarannya ke gue.
“Oh, terima kasih Ya Allah. Engkau menurunkan bidadari yang enggak cantik tapi ternyata baik ini, Ya Allah.” gumam gue bersyukur dalam hati. “Oh, thanks Rei. Gue coba dulu lah.” sahut gue. Ahahaha, gue bahagia.

****

Tak jauh berbeda saat Ujian Semester, aksi yang gue timbulkan lebih tidak manusiawi dalam hal Matematika dan Fisika. Gue merasa untuk ulangan harian yang materinya enggak banyak saja gue rasanya mau mati, apalagi soal Semester. Tak hanya Matematika, Fisika pun menjadi hal yang paling gue hindari. Fisika saat gue Aliyah sangat jauh berbeda dengan Fisika saat gue Tsanawiyah. Dan itu terbukti.

“Besok materinya apa?” tanya gue memulai basa-basi dengan teman-teman di ruangan Ujian kami.
“Hmm.. gue cek dulu sebentar.” Sahut Ani sambil membuka lembaran-lembaran catatan dalam buku notesnya.
“Fisika dudul.” sahut Irwan tiba-tiba.
“Haaah? Serius lo?” tanya gue shok. Dan itu emang benar.
“Serius lah, Irwaann khan anagnyaaa baeeekg bangeed, enggaaak munggkiiin bohonggg laaaaahhh.” sahut Novi dengan logat bicara yang dimirip-miripkan seperti Fitri Tropicca.
“Oya, Van. Ditambah Bahasa Indonesia.” jawab Ani mengiyakan perkataan Novi dan Irwan.
“Mampus dah, Elo tau kan kaya apa gue ngerjakan Matematika kemaren? Gue enggak ngerjakan tau! Gue malah ngegambar tokoh anime. Saking stressnya gue!” teriak gue ke teman-teman.
“Kam pikir? Gue enggak?” sahut Rojo enggak kalah hebat.
“Elo kan calon anak IPA , Jo? Harus lebih hebat semangat dari gue dong. Ahahahaha!” balas gue ke Rojo enggak kalah nyaring.
“Ahahahha. Kesah!” jawab Rojo. Tawanya meledak.
“Udahh pank temaaaan-temaaan. Seetooop!” lerai Novi dengan suara yang masih diberat-beratkan, terobsesi sekali dengan Fitry Tropicca.

Ting.tong
“Ujian kedua akan dimulai 5 menit lagi”

Bel ujian menghentikan percakapan kami, kami bersiap-siap untuk menempuh perjalanan panjang di materi berikutnya. Untungnya, materi selanjutnya ialah Fiqih. Tidak sesulit dan serumit pelajaran Matematika dan Fisika. Saatnya gue beraksi dengan baik dalam mengerjakannya (baca : tumben).

Malamnya, gue enggak tenang. Detik demi detik kepala gue rasanya mau lepas, enggak tahan banget. Penyebabnya hanya satu, yaitu ulangan Fisika besok. Bagi gue, Fisika jauh lebih mengerikan dari Matematika. Dan artinya gue bakal lebih prustasi saat besok hari.

Bingung mau ngapain, nonton tivi enggak semangat, sms’an enggak semangat, ngecengin tetangga sebelah juga ogah, mau internetan juga enggak deh. Akhirnya, gue berniat untuk belajar Fisika saja. Sekaligus mengecek materi-materi pelajaran tersebut yang tidak saya mengerti, dan hasilnya.. Gue baru nyadar kalau gue GA NGERTI APAPUN tentang ini materi.

Gue mencoba berpikir rasional bagaimana cara agar gue bisa lolos dalam ujian Fisika besok? Gue enggak bisa mengharapkan bantuan dari teman-teman gue. Eits, bukan berarti gue mau jujur. Tapi gue sadar mengharapkan mereka adalah suatu tindakan yang lebih parah dari menyontek. (Maaf, canda)

“Bismillahirrahmanirrahim. Semoga besok lancar. Amin.” doa gue dalam hati sebelum tidur.

Pagi pun datang…
Gue mencoba berpikir positif thinking tentang hal itu. Dan saat gue masuk ke ruang, gue lihat pemandangan yang enggak wajar. Ruangan sangat ramai seolah tidak terjadi apa-apa, walau ada beberapa siswa yang sibuk belajar, tetapi tetap lebih banyak siswa-siswi yang asyik melakukan aktifitasnya.

Ada yang ngobrol.
Ada yang sms’an.
Ada yang telpnan.
Ada yang main bola.
Ada yang ngupil.
Ada yang bawa-bawa ayam. (belakangan dia diketahui sebagai maling ayam).

“Kok rame?” tanya gue heran, walau seharusnya bahagia.
“Emang enggak boleh?” sahut Fitry nyeletuk.
“Engga deng! Heran aja, biasanya kan suram!” tanya gue heran, dan bahagia.
“Suram kenapa lagi?” tanyanya bingung.
“Kan nanti Fisika.” jawab gue polos tapi kenceng.
“Ahahaha, enggak apa lagi. Kalau enggak ngerti enggak usah dipaksa.” celetuk Rojo enggak tahu malu. Dan Fitry mengiyakan dengan tertawa kecil.

Gue heran dengan sikap mereka semua.
Tetapi inilah yang gue suka.

****

Categories: Cerita Gue, Ilmu Kesastraan, Simpone Bahase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: