Simpone Bahase (Kisah Semprul Anak Bahasa) Eps. Pobia Rumah Cakit

Part III
Pobia Rumah Cakit
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

Mendengar kata rumah sakit terkadang bisa bikin gue horror sendiri. Entah apa penyebabnya, tapi ya gue horror aja dengar kata itu. Dan hal yang mengherankan adalah gue tidak punya alasan yang jelas atas rasa horror yang gue rasakan.
Gue enggak pernah masuk rumah sakit karena kecelakaan atau yang lainnya, gue enggak pernah ketemu penampakan yang aneh-aneh disana, gue enggak pernah ketemu bencong yang menurut gue lebih serem dari hantu manapun yang ada di rumah sakit. Atau pernah kejebak di kamar mayat gara-gara nyasar nyari toilet? Boro-boro deh! (tapi, enggak keren banged deng’, cari toilet nemu kamar mayat). Lantas apa yang membuat gue horror dan speechless jika mendengar kata itu? Enggak ada. Ya gue horror aj, enggak ada alasan lain.

Sewaktu gue masih duduk di bangku kelas X Madrasah, gue ingat saat teman sebangku gue masuk rumah sakit. Namanya Reitisa (nama samaran, nama aslinya gue samarkan, supaya doi enggak kepedean entar). Rumornya terkena tifes, faktor kelelahan, dan ternyata ada rumor lain yang menyebutkan karena terkena demam berdarah, dan ada lagi rumor sableng yang beredar, yaitu teman gue masuk rumah sakit karena pengen ngerasain nginep disana. (hedeh, enggak kreatip sekali yang bikin rumor).
Kabar itu langsung tersebar luas saat itu, kontan membuat teman-teman sekelas dan yang lainnya pada ngatur schedule untuk membesuk Reitisa. Mendengar dan melihat aksi mereka, gue lantas perlahan-lahan berjalan menjauhi mereka. Maaf ya, bukannya gue bermaksud jahat, tapi gue enggak tahan aja denger mereka bahas-bahas soal rumah sakit. Ternyata temen gue yang bernama Irwan (asli deng’, bukan samaran) sadar, lantas memanggil gue.
“Van, kenapa loe?” tanyanya kontan.
“Eh, eh, enggak.” sahut gue kontan pula. “Eee, ee, kebelet wan, kebelet wan!”
“Sabar dulu dong, Van! Gabung disini dulu!” panggilnya lagi.
“Tapi Wan, elo mau tanggung jawab kalau-kalau gue tumpah disini? Kamu bersedia atau engaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaak?????” sahutku disertai emosi yang enggak banged.
“SINTING KAMU!” teriaknya. “Cepet sono! Awas tumpah disini!”
“Ya enggak lah! Udah ya!” sahutku pula.
Fiuh, selamatlah hidup gue dari pembicaraan mengerikan itu. Walaupun sebenarnya gue agag enggak enak hati juga sama teman-teman yang lain. Tapi apa boleh buat, gue hanyalah manusia biasa yang lumayan cakep walau jelek (jadi apa dong?), berkacamata minus yang suka digonta-ganti setiap 2-3 bulan sekali, tinggi dan berat badan sekitar 168 cm dan 49 kg, memiliki hobi menggambar atau menulis, status single, nomor handphpone 085247763309 (baca : alay).

****

Tentu, enggak semua hal yang berhubungan dengan rumah sakit bisa gue hindari. Terutama jika berhubungan dengan keluarga atau teman-teman terdekat. Masa iya harus gue hindari untuk enggak membesuk mereka? Enggak lah, gue harus tetap besuk mereka. Tetapi dengan satu syarat, dan apakah itu? BARENG-BARENG. Setidaknya dengan begitu gue bisa menghilangkan rasa horror tersebut.
Pernah suatu ketika gue mencoba search di Internet tentang fhobia terhadap rumah sakit. Dan anehnya, gue menemukan sebuah grup komunitas anti rumah sakit di Facebook. Sumpah hancur banged itu grupnya, membernya enggak jelas semua. Gue ngakak abis ngebaca berbagai macam alasan mereka semua menjadi fhobia terhadap rumah sakit.
Salah satunya seperti ini.
Nick : Yyan Selalu Sepi (sepi kenapa? Enggak punya pasangan atau tinggal di goa?)
“Q takut rumah sakit gara-gara pacarku mutusin q disitu, alasannya pacarku suka rumah sakit, sedangkan q takut rumah sakit.” (Lho? Kalau gitu udah takutnya sebelum diputusin donk, koplak).
Ada juga yang seperti ini.
Nick : Poetra Poetra Ann (sama anehnya ini nick name)
“Sebenarnya simple aj, q trauma kerumah sakit gara-gara pernah marahi pedagang buah. Bayangkan, q beli jeruk 1 kilo seharga 25rb, q kasih 30rb. Eh, penjual malah enggak mau dibayar, q tersinggung, q paksa tetap enggak mau. Itu penjual enggak mau uang besar, harus uang pas. Walaupun kesal, q ambil sebuah gunting dan kugunting-gunting itu sampe menurutku itu sudah pas. Eh itu penjual marah lagi, katanya q bodoh. Aneh banged. Ckckckc” (saat itu juga gue sadar, masih ada orang se-primitf ini).
Bahkan ada yang lebih parah.
Nick : Emak Marah Marah (tetap enggak karuan nicknya)
“Aye benci banged sama rumah sakit. Gara-gara ntu bangunan, kuburan aye dibongkar, dan dipindahkan. Parahnya, kaki aye ketinggalan. Akibatnya, aye di kuburan yang baru kada bekaki. Hufth.” (ini yang membuat gue berhenti membaca).
Semenjak itu gue paham bahwa orang-orang yang fhobia akan sesuatu pasti memiliki asalan/sebab. Dan gue semakin heran, cuma gue yang enggak punya alasan. Mungkin punya, tapi gue enggak tahu.
Jangan-jangan gue terkena Amnesia? Tapi kapan? Gue lupa dan merasa enggak pernah amnesia. Tunggu, gue lupa dan enggak mampu ingat sama sekali. Jadi, gue beneran kena Amnesia?
Oh, tidak.
Gue kejang-kejang.

Malamnya, saat sedang asyik melahap makanan yang tersedia didapur yang penuh debu, sarang laba-laba, cecak dan kadal (baca : ini dapur atau gua seh?), berderinglah handphone butut yang gue pakai selama ini. Sebauh Call dari Afdal, teman sekelas gue yang berbicara seperti logat batak (baca : belakangan gue tau kalau dia memang orang batak). Ada apa yang terjadi? Hal itulah yang terlintas dibenakku saat itu.
“Van, elo ikut enggak?” tanya Afdal dengan logat yang hampir batak.
“Ikut apa?” tanya baik gue bingung.
“Ha? Jenguk si Reitisa, dudul!” sahutnya geram.
“Oh..” jawab gue sok keren.
“Ikut enggak? Awas kalau enggak!” sahutnya enggak percaya.
“Hei, tapi gue besok ada acara. Penting!” jawab gue cari alasan.
“Aah, bohong saja kan. Elo phobia sama rumah sakitkan?” tanya si Afdal to the ponit.
“Asem lu! Mana ada, sumpah!” sahut gue cari alasan, walau sebenarnya gue syok sekali.
“Yakin?” tanyanya saraya
“Bener.” jawab gue sok berani.
Malamnya, gue enggak bisa tidur.

Mampus dah, mau jadi apa gue? Besok ke rumah sakit? Mental gue belum kuat, belum siap. Pengen rasanya ngemut Baygon di kamar nyokap, tapi setelah gue cari-cari, hasilnya enggak ketemu deng’. Mau beli, tapi harus pergi ke warung depan dulu, dan duit gue enggak cukup untuk beli itu Baygon. Merasa enggak diberkati untuk meminum Baygon, gue akhirnya nyerah, dan meratapi nasib yang menimpa gue.

Besoknya, gue emang turun sekolah sebagaimana biasanya. Walau ada perasaan yang sangat mengganggu, bagi gue enggak masalah. Asalkan gue tetap bisa tenang dan bertingkah laku sebagaimana biasanya, walau tingkah laku gue yang biasa adalah hampir menyerupai orang dongo. Tapi bukan dongo seperti hobi ngupil disembarang tempat terus ngelap di seragam orang atau suka melamun dipinggir kelas seraya ketawa-ketawa tidak menentu yang bisa membuat orang sekelas ngejauhi gue. Sekali lagi, bukan dongo kaya gitu.

Alhasil, gue hari itu tetap bisa menghindari teman-teman di kelas yang ingin menjenguk Reitisa. Gue paham dan sadar gue salah, tapi demi keselamatan gue, gue musti ngelakuin itu. Sampai Reitisa sembuh dan keluar dari rumah sakitpun, gue tetap enggak jenguk dia. Maafkan gue semua, gue enggak bisa.

****

Jikalau gue mengingat kejadian pahit dan mengenaskan itu, gue malu dan malu. Gue seharusnya enggak seperti itu, dan gue musti berubah untuk kedepannya. Gue sadar tidak selamanya gue bias menghindar atas hal-hal yang berhubungan dengan rumah sakit. Mungkin dengan si Reitisa bisa, tetapi bagaimana jika ada kerabat atau teman yang bernasib sama seperti Reitisa. Masa iya gue enggak jenguk lagi? Jangan sampai deng, sumpah.
Dan..
Tebakan gue benar.
Saat itu gue sedang mengurus perlombaan yang gue ikuti. Dan gue enggak sendiri, gue bersama teman gue, Angga. Kebetulan gue dan Angga ikut dalam acara perlombaan yang sama walau kategori yang berbeda. Saat sedang sibuk-sibuknya mengurus persiapan untuk lomba, terdengar kabar dari Angga bahwa Ayahnya jatuh sakit dan harus dilarikan ke Rumah Sakit. Awalnya gue merespon sebagaimana biasanya. Tetapi tak lama gue sadar.
“Apaaaa!? Rumah Sakit? Tidaaak mamen!!!!” teriak gue dalam hati.
Wajah gue pucat, idung gue kembang kempis. Idung gue yang mancung jadi pesek, walau mancungnya itu udah pesek. Tapi enggak apa lah, anggap aja mancung sebagaimana orang-orang lainnya yang berhidung mancung.
Gue berusaha stay cool..
Tapi gagal.
Perut gue mules, perasaan gue gelisah karena perut ini. Apakah ini reaksi yang ditimbulkan tubuh gue? Separah itu kah phobia gue?
Ya Allah.
(belakangan gue tahu kalau penyebab gue sakit perut karena sarapan sambal tadi pagi.)

Malamnya, gue tetap bingung dan gelisah. Tetapi gue berusaha tidak meladeni apa yang gue rasakan, dan mencoba untuk melupakannya dengan cara mengerjakan hal lain. Gue coba menuju meja Operator di warnet gue, mungkin dunia maya bisa menenangkan perasaan gue. Disela-sela kesibukan browsing gue, handphone gue berdering lagi. Kini dari seseorang yang tidak gue kenal.
“Klek. Ya, Assalamu’alaikum!” sahut gue dengan suara yang ngebass. Biar kesaannya keren gitu.
“Wa’alaikum, Van elo dimana?” suara si penelpon. dan itu suara laki-laki sekiranya seumuran dengan gue.
“Gue? Gue di rumah. Ini siapa yo?” tanya gue masih bingung.
“Dimas, Van! Elo dimana? Di rumah kah?” tanya dia lagi, dan sedikit memaksa.
“Iya gue dirumah. Kenapa?” sahutku gue masih heren. Sebelumnya gue jelaskan dulu, Dimas ini temannya kakak sepupu gue yang bersekolah di SMAN 2 Samarinda, dan dia sebenarnya setahun lebih tua dari gue. Tetapi berhubung secara fisik dia hampir serupa dengan gue, baik dari kurus, ceking, dsb udah mirip, jadi kami berdua kelihatan seumuran. Cowo kurus (fakta, bukan bohongan) yang nafsu makannya gila-gilaan ini memang tetanggaan dengan gue, walau enggak terlalu dekat. Dan dia pula yang sering menjadi korban aniaya gue dengan tidak berprikemanusiaan lantaran hidungnya yang big size sering membuat gue tergoda untuk menginjaknya. (baca : ini kenyataan, tanpa rekayasa).
“……”
“Hoi! Kok diam?” tanya gue heran.
“……”
“Elo tabrakan ya?” tanya gue ceplos.
“Asem lu!” sahutnya tiba-tiba.
“Oh, jadi ada apa?” tanya gue sok kalem. Walau enggak ada unsur kalemnya sama sekali.
“Elo enggak lapar kah, Van?” tanya Dimas.
“Emang kenapa?” tanya gue lagi.
“Enggak apa-apa, Van. Elo yakin enggak lapar?” tanya lagi, tetapi dengan nada yang lebih mencurigakan.
“Sebenarnya….”
“Sebenarnya apa? Apaan?” tanyanya enggak sabaran.
“Sebenarnya gue enggak akan lapar kalau elu yang tanya. Ahahahah” sahut gue puas.
Dimas gondok setengah mati. Setelah berusaha untuk menghindari hinaan semprul dan tak senonoh dari Dimas, gue memulai pembicaraan kembali.
“Ahaha, elu ke rumah aja dulu. Urusan lapar belakangan, gampang di atur.” perintah gue.
“Aha. Oke, tunggu sebentar!” sahutnya. Kemudia telephone ditutup.

Gue kembali melajutkan aktifitas gue di depan layer computer, seraya browsing tentang cara menghentikan phobia, apapun itu. Walau artikel yang muncul bermacam-macam dan simpang siur, tetapi hal itu gue maklumi karena dunia maya memang wadah dari segala informasi, baik itu benar, salah, atau benar benar enggak salah, salah salah enggak benar.
“Van, ayo!” panggil Dimas, memecah konsentrasi gue.
“Apan?” gue berkata, sok enggak tahu apa-apa.
Dimas gondok setengah mati lagi.
“Yaudah, gue pulang aja!” sahutnya singkat, dan ngambek.
Gue buru-buru mencegatnya. Dari pada gue enggak ada teman makan.
“Ye, kucluk. Tunggui bentar bah!” sahut gue kontan. Seraya bangkit dari meja computer dan masuk ke dalam kamar mengambil jaket. “Ke nuklir ya kita.” sambung gue.
“Oke.” Dimas menaiki motor dan mulai menghidupkan mesin. Senyumannya lebar banget.
Gue bercerita banyak ke Dimas, karena memang doi teman cerita gue. Baik itu cerita baik, buruk, jibang (baca : jijik banget), atau romantis.
Seusai makan, kita langsung cabut dan menuju rumah gue. Dimas menyempatkan diri untuk online sebentar di rumah gue, dan gue udah biasa akan hal itu. Yang penting doi bayar, kalau enggak bayar, baru gue usir.
Sebenarnya gue ingat bahwa Dimas kenal Angga, jadi ada alasan buat gue ajak doi menjenguk Ayahnya Angga di Rumah Sakit. Lumayan lah, gue jadi ada teman menenguk besok.
“Dim, elo sibuk enggak besok?” tanya gue memulai pembicaraan, “Sibuk enggak?”
“Hmm..” sahutnya singkat sok kalem, “Iya, gue ada bimbingan.” smbungnya lagi.
“Oh gitu.” kata gue, dan gue mulai lesu.
“Emangnya kenapa?” tanyanya heran.
“Enggak apa.” sahut gue tidak bersemangat. Entah kenapa, saat itu gue enggak langsung terus terang akan hal yang sebenarnya. Tak lama Dimas pun cabut dari rumah gue, dan gue kembali sendiri di depan meja computer yang telah gue tatap selama berjam-jam.

****

Seminggu kemudian, gue benar-benar dalam keadaan yang sangat melelahkan. Gue mesti latihan nasyid bersama teman-teman di sekolah, jadi waktu liburan gue terpakai untuk hal itu. Tak hanya itu, gue juga mesti mempersiapkan lomba Mading 2D yang gue ikuti bersama team Jurnalistik.
Sayang sekali, Angga tidak bias ikut perlombaan nasyid bersama kami. Karena doi harus menjaga Ayahnya yang masih di rawat di Rumah Sakit. Kami bisa mema’lumi hal itu.
“Angga tetap enggak bisa ya?” tanya Ka Nazib, pelatih Nasyid di sekolah kami.
“Tampaknya seperti itu Kak. Soalnya enggak ada yang bantuin jaga Ayahnya di RS” sahut gue seraya memberikan penjelasan singkat.
“Ya udah, tetapi kamu mesti usaha keras. Soalnya kamu sendirian.” perintah Ka Nazib memberi saran.
“Siap” sahutku mantab.

Hari perlombaan pun tiba, selama 2 hari gue harus bolak balik dari Samarinda ke Samarinda Seberang, lebih tepatnya ke POLNES. Bisa dibayangkan, rumah gue yang letaknya di ujung Samarinda harus pergi ke luar Samarinda. Dari ujung ke ujung, bisa dikatakan dari Selatan ke Utara. Sungguh perjalanan yang enggak gampang.
“Pembukaannya lama betul!” keluh Rojo (nama aslinya Risky Nur Oktavianto).
“Iya, kesel juga heh.” Sahut gue mengiyakan.
“Kemana aja sih panitianya?” fajar berucap seraya menggaruk-garukkan kepala.
“Yaah kita tunggu saja.” Sahutku menenangkan teman-teman yang lain.

Perlombaan pun dimulai sebagaimana mestinya. Mengasyikan dan menegangkan, ya begitulah perlombaan.
“Lik, kamu sama Nazmi langsung pulang atau nunggu ba’da Jum’at?” tanya gue ke Ulik.
“Kayanya ba’da Jum’at deh. Malas masih panas.” sahut Ulik seraya melihat ke arah matahari yang bersinar sangat terang.
“Nanti Ulik makin hitam, Vaaaaaaan.” Sahut Nazmi mendadak dengan lugunya.
“Whaaaseem, kamu Miii..” teriak Ulik gelagapan.
Di sela-sela pembicaraan antara gue, Ulik, dan Nazmi, tiba-tiba Denny memotong pembicaraan.
“Ada yang sudah membesuk Bapaknya Angga kah?” kata Denny.
Gue diam.
Mampus dah.
Pikiran gue bekerja keras : bilang udah membesuk, nanti malah di suruh anterkan. Bilang belum besuk, nanti disuruh ikutan besuk. Pusing. Alhasil, gue milih bilang udah membesuk karena pada dasarnya gue memang sudah membesuk Bapaknya Angga, saat menemani Angga ke Rumas Sakit sebentar. Walaupun gue enggak lama dan enggak berani masuk ke ruangannya. Maafkan gue, sumpah.
“Hoi, udah enggak?” tanya Denny lagi, enggak sabaran.
“U-udah. Gue udah.” sahut gue agag gelagapan.
“Ye, aku juga juga udah yaaa..” sahut Ulik menimpali.
“Aku belum eh, eh. Gimana eh eh?” tanya Nazmi panik disertai gerakan tangan yang enggak jelas mengarah ke semua arah.
“Kapan kita jenguk?” Tanya Denny lagi, “Soalnya gue belum menjenguknya ne.”
Gue tetap diam.
“Ya besok kalau bisa.” Kata Ulik memberi saran.
“Ya udah besok.” Sahut Denny mengiakan.
“Siip” sahut Ulik dan Nazmi kompak.
Gue pura-pura enggak mendengar pembicaraan mereka, walau gue dengan sangat jelas mendengarnya.

Malamnya, saat sedang asyik mendengarkan sebuah lagu yang berjudul Terima Kasih Tuhan yang dibawakan oleh Na’am terganggu oleh sebuah sms yang mendadak muncul tanpa aba-aba sebelumnya. (yaeyalah mendadak, namanya juga sms)
Gue lihat di layer handphone gue.
From : Fajarr
“Oh, dari Fajar” gumam gue dalam hati.
Gue baca isi pesannya.
“Van kamu udah jenguk Bapaknya Angga?”
Jedger, lagi-lagi. Tetapi enggak apa lah, siapa tau gue bisa sembuh dengan dibawa ke urusan RS terus menerus.
Gue pun mencoba balas dan seterusnya.

Dan sms kami pun berakhir. Dan sekali lagi, mampus gue. Ke RS lagi.
Malamnya, gue khawatir enggak bisa tenang lagi.
Dan perasaan gue benar.
Kepala gue pusing lagi, gue enggak bisa makan kecuali lapar, enggak bisa tidur kecuali ngantuk, enggak bisa pup kecuali mules, dll. (sama aja deng’)
Gue berdoa saat sholat Isya dengan khusyuknya. Gue memohon agar dihilangkan rasa horror / phobia ini. Sungguh sangat menyiksa dan sangat terlihat konyol.

****
Didorong oleh rasa khawatir dan gelisah yang sudah mulai bisa di kontrol, gue udah mulai bisa terlihat tenang. Walau hati masih tidak karuan perasaannya, ditambah keadaan gue waktu itu sedang dalam perombaan. So, rasa gugup gue bertambah.
“Bismillahirrahmanirrahim…” ucap gue dalam hati. Mantab.
Dan setelah girilan team Nasyid gue menampilkan kebolehan kami dalam berdakwah via music acapella Islami, hati gue udah agag mendingan. Ditambah adanya Dimas yang menghibur gue dengan ucapan via sms yang berisi :
“BMI bagus, Van. Perkusinya melawankan. Sip.”
Hati gue semakin gembira, dan untuk sesaat gue bisa melupakan masalah tentang RS.
“Van, jam berapa ke RS?” tanya Fajar memecah keheningan pikiran gue.
“Oh ya a ya, ken.napapa?” Tanya gue gelagapan karena dikagetkan secara mendadak gitu, walau sebenarnya biasa saja. Tidak ada unsur suprisenya sama sekali.
“Kapan ke RS, Van? Masa nunggu pengumuman?” tanyanya lagi tak sabar.
“Ya iya lah nunggu pengumuman. Biar bisa bawa kabar baik ke Angga dan keluarganya. Angga kan rela enggak ikut lomba karena keluarganya. Itu perjuangan yang hebat deng’.” ucap gue detail. Beh, serasa berwibawa dan pengertian banget. Ahahaha.
“Oh sip. Cie.cie” sahutnya mengiyakan perkataan gue, walau disertai mengolok juga.
“Apaan? Awas kamu!” kata gue serius seraya menunjuk wajah Fajar.
“Ahahahahhaa” tawanya meledak.

Tentu, enggak semua hal tentang RS yang gue benci. Why? Karena gue enggak tahu gue horror RS dibagian mananya. Munkin horror secara menyeluruh. Dan mungkin karena gue jarang sekali ke RS, sehingga enggak tahu bagaimana rasanya suasana di sana.
RS emang identik dengan kesan serem dan mistik. Kabar-kabar tentang seramnya RS berbagai macam. Ada satu cerita tentang RS yang gue ingat banget. Ceritanya kalau enggak salah begini : Ada seorang perempuan hamil dan malangnya suaminya sedang keluar rumah untuk beberapa hari, tak lama keadaan semakin tidak terkendali, perempuan tadi kesakitan perutnya dan segera dibawa ke Rumas Sakit, dan disana perempuan tadi dibawa ke ruang bersalin dan melahirkanlah perempuan itu. Oh tunggu, ini mah jalan cerita Proses Melahirkan. Bukan cerita serem dari RS.
Pokoknya, teman gue sering bilang bahwa RS itu serem.
Pengumuman pemenang lomba pun di mulai, dan hasilnya kami juara dan totalnya kami membawa 5 buah piala dan umpamanya saja ada kategori juara umum, kami pun akan menjadi juara umum. Yeah.
“Berangkat sekarang kah?” tanya Fajar.
“Oh, iya.” sahut gue mencoba mantab. Hati gue udah mulai siap.
“Tapi gue enggak bisa tepat waktu ne.” sahut Denny ragu.
“Masalah motor? Enggak apa, kita tungguin kok di sana.” sahut Fajar.
“Aku pulang dengan Ibuku ya, entar si Irvan yang jemput aku di rumah. Bisa kaannnn?” tanya Ulik tiba-tiba.
“Insya Allah bisa.” dan gue semakin rileks.
“Oke.” Jawab Ulik mantab. Dan Ulik pun segera pergi bersama Ibunya. Tinggal gue dan teman-teman yang masih bertahan di tempat itu.
“Kami ikut ya..” sahut Rina, Rifa, Izul, Lati, dll. Tentu saja kami memperbolehkan mereka semua datang. Mereka semua bersemangat untuk pergi ke RS karena Angga dikabarkan juga dirawat disana karena sakit. Mungkin factor kelelahan yang berlebih. Rasa pertemanan yang begitu kuat membuat semuanya bersemangat.
Perbincangan singkat pun terjadi, dan gue sudah merasa nyaman. Mungkin rasa persaudaraan dan pertemanan kami membuat gue bisa melupakan rasa horror dan phobia gue.
“Yuk berangkat!” ajak Fajar ke yang lainnya.
“Oke.” sahut yang lain kompak dan mantab.
Gue pun sampai disana, awal perasaan gue jelas gugup, tetapi kian waktu kian tenang. Mungkin karena melihat teman-teman gue sudah berkumpul, gue merasa senang dan bangga.
Kami berjalan beriringan dengan kegembiraan yang terpancar dengan sangat baik. Gue pun tidak merasa takut atau horror lainnya saat memasuki area RS tersebut, tidak seperti pertama kalinya. Malah gue ngerasa RS enggak beda jauh dengan sekolah dan hotel, jadi gue semakin riang berada disitu.
“Hem,, sejuknya udaranya..” gumam gue dalam hati. Dan itu benar, sangat sejuk. Walau aroma khas dari RS tetap tidak kalah hebat, tetapi hal itu enggak terlalu berpengaruh bagi gue.
“Itu ruangannya!” kata gue dan Ulik seraya menunjuk ke arah Kompleks Anggrek.
“Assalamu’alaikum…” ucap kami kompak.
“Wa’alaikumsalam..” sahut Mamanya Angga, “Eh, kalian semua. Angga, teman-temanmu datang tuh!” sambung Mamanya Angga.
Kami pun satu persatu masuk ke Ruangan tersebet dan berbincang sedikit dengan Angga dan Mamanya.
Gue miris banget melihat keadaan Angga, dia terlihat sangat lemah, walau tidak selemah gue. Setelah merasa puas di tempat tersebut, kami semua pun pamit. Untuk kali ini gue tahu diri, gue dan teman-teman sungkan berkunjung lama-lama di sana, khawatir akan mengganggu waktu istirahat Angga dan Ayahnya.
Dalam perjalanan pulang, gue berpikir kembali.
“Gue horror sama RS karena apa ya?” gumam gue dalam hati. Dan jawabannya tidak gue temukan sampai sekarang.

****

Categories: Cerita Gue, Ilmu Kesastraan, Simpone Bahase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web atau blog gratis di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: