Simpone Bahase (Kisah Semprul Anak Bahasa) Eps. Tindihan atau Mimpi Doang!?

Part II
Tindihan atau Mimpi Doang!?
Karya Irvan Ramdanie
XII Bahasa
twit : @kaiipanBahasa

Tindihan?
Iya.

Itulah hal mistis yang sampai sekarang membuat gue bingung. Setiap orang yang membahas atau memperbicangkan tentang mistis atau horror pasti tahu hal tentang tindihan. Dan bagi yang enggak tahu, gue bisa berasumsi 3 hal : 1. Kamu adalah orang dari zaman yang enggak ada mistisnya sama sekali, jadi kamu enggak ngerti soal hal-hal begituan (kenyataannya enggak ada zaman kaya gitu, oke). 2. Kamu tahu tapi pura-pura enggak tahu agar kamu selamat dari hal-hal yang begituan. Atau yang ke. 3. Di sekolah kamu enggak ada pelajaran yang membahas tentang tindihan. (oke, gue akui emang jarang ada pelajaran yang begituan).

Setiap orang yang pernah mengalami tindihan pasti memiliki kesan-kesan yang berbeda. Mungkin ada yang takutnya setengah mati, mungkin ada yang biasa aja, atau malah ada yang seneng (kalau gue jadi dia, gue enggak akan mau kaya gitu, oke), atau bahkan ada yang malah nunggu-nunggu kena tindihan, siapa tahu bisa minta tanda tangan. Kenyataannya, enggak ada yang orang seperti itu, kalaupun ada hanyalah seorang psikopat yang hobi ngumpulin kesan-kesan horror mulai kecil sampai tua bagaikan mengoleksi harta-harta mewah.

Bicara tentang tindihan, banyak cerita atau fersi yang membahas tentang asal-muasal atau penyebab orang bisa terkena tindihan.

Pertama, dari segi ilmiah mengatakan tindihan atau bahasa ilmiahnya Sleep Paralysis atau keadaan ketika orang akan tidur atau bangun tidur merasa sesak napas seperti dicekik, dada sesak, badan sulit bergerak dan sulit berteriak disebakan karena beberapa factor penentu, seperti kurang tidur, terlalu lelah tetapi tidak tidur, dll.

Bahkan, menurut Al Cheyne (bukan keluarga gue yang jelas), seorang peneliti dari Universitas Waterloo, Kanada, sleep paralysis, adalah sejenis halusinasi karena adanya malfungsi tidur di tahap rapid eye movement (REM). Wow, begitu ilmiahnya tindihan dimata para ilmuan.

“Elo pernah kena tindihan?” tanya gue ke seorang teman sekelas gue saat masih kelas X.
Mendengar pertanyaan aneh gue, teman gue bilang,
“Pernah lah, sumpah gue syok banget!” jawabnya horror banget.
“Ah masa iya?” sahut gue enggak percaya. Saat itu memang gue enggak pernah kena tindih.
“Beneran. Elo enggak pernah ya?” Tanya enggak percaya, dan tetap dengan gaya mistis abis.
“Enggak pernah dan enggak pernah mau.” Jawab gue cepat dan mantab.
“Ahaha. Jangan sampai deh.” Saran dia ke gue, dan gue juga tahu, semua orang juga tahu, kalau tindihan itu enggak enak.
“Terus kok bisa elo kena tindih?” tanya gue polos. Polos banget.
“Ha?” teman gue kaget ditanya seperti itu. Mungkin baginya gue sedang mengajukan sebuah pertanyaan yang sangat tidak rasional.
“Iya gue serius! Kok bisa?” gue begitu bersemangat mempertanyakan hal itu. Tanpa ada rasa takut atau khawatir yang seharusnya.
“Ya gue juga enggak tahu. Gue lagi tidur, tiba-tiba badan gue berat, sesak napas, pokoknya menderita banget, Van.” balasnya tetap dengan gaya horror.
“Ya gue paham.” Sahut gue sok pengertian.
“Katanya belum pernah?” tanyanya lagi bingung.
“Emang. Tapi gue kan enggak sebodo elu, ya ngerti lah. Ahahaha” balas gue ngaco. Ngaco banget.
“Asem.” jawabnya enggak terima seraya misuh-misuh enggak jelas.

Ternyata pembicaran kami menarik perhatian teman-teman lainnya.

“Bicara apa kalian? Kayanya ada kata-kata tindihan? Bener enggak neh?” kata Reitisa bersemangat.
“Ah iya, emangnya kenapa, Rei?” Tanya gue biasa.
“Gue pernah tau!” sahut Reitisa dan satu orang teman gue lagi, Fity.
“Eh ya kah?” Tanya gue lagi enggak percaya.
Mereka pun berbicara banyak hal tentang tindihan.

****

Malamnya gue browing di mbah Google tentang tindihan. Jujur, baru kali itu gue penasaran banget. Sebenarnya tergesir di hati gue untuk mengetahui bagaimana sih rasanya tindihan itu. Tetapi langsung gue tepis karena itu adalah pemikiran yang sangat bodoh. Apakah ada orang yang bersedia di tindih? Enggak ada dan enggak akan ada. Oke.

Dari artikel yang gue temukan, tindihan memiliki banyak sebutan di tiap-tiap daerah/negara. Contohnya di budaya China, tindihan disebut gui ya shen alias gangguan hantu yang menekan tubuh seseorang. Di budaya Meksiko, disebut se me subio el muerto dan dipercaya sebagai kejadian adanya arwah orang meninggal yang menempel pada seseorang. Atau di budaya Kamboja, Laos dan Thailand, disebut pee umm, mengacu pada kejadian di mana seseorang tidur dan bermimpi makhluk halus memegangi atau menahan tubuh orang itu untuk tinggal di alam mereka. Sama halnya dengan budaya New Guinea(sebuah tempat yang jauh sekali dari rumah gue), fenomena ini disebut Suk Ninmyo. Ini adalah pohon keramat yang hidup dari roh manusia. Pohon keramat ini akan memakan roh manusia di malam hari agar tidak menggangu manusia di siang hari. Namun, seringkali orang yang rohnya sedang disantap pohon ini terbangun dan terjadilah sleep paralysis. Wes, serem banget.

Dari semua informasi yang gue dapat itu, dapat gue simpulkan, sebenarnya penyebab orang bisa kena tindihan tidak lain dan tidak bukan karena tidurnya mereka tidak melafalkan doa dan lupa untuk meminta perlindungan kepada Allah swt. Seandainya saja mereka selalu ingat, tentu mereka enggak akan di ganggu.

Walau begitu, secara teman-teman gue sewaktu di sekolah tetap saja membuat gue gelisah. Gelisah banget. Gue sulit sekali untuk tidur, karena takut sewaktu tidur gue malah enggak bisa bangun gara kena tindihan.

“Ya Allah. Jangan sampai dah.” Gumam gue dalam hati seraya terus melafalkan doa demi doa.

Merasa enggak berhasil memejamkan mata, gue berkeinginan untuk mengirim sebuah sms ke teman gue, sekiranya dapat menjadi teman ngobrol bagi gue.

: Assalamu’alaikum, akhi. Udah tidur kah?

Tak lama sms gue pun dibalas.
Gue sujud syukur. Ehehe

: Belum. Kenapa, Van?
: Gue enggak bisa tidur, gara-gara cerita tadi siang di kelas. Elo beapa?
: Lagi main game, ahaha. Di bawa nyantai aja, Van.
: Oh ya?
: Iyo.
: Oh, thanks ya boy. Assalamu’alaikum.
: Wa’alaikumsalam.

Usai itu, gue sms temen gue yang lain. Tak lama sms balasnnya pun muncul.

: Kenapa, Van?
: Elo online kah? (Gue muncoba basa-basi)
: Kenapa?
: Bisa minta tolong?
: Apaa?
: Tolong search kan di Google artikel tentang menghidari tindihan. Bisa kan?
: Ah yang serius, Van? Malam-malam gini?
: Iya, Dim. Serius, please.
: = =”
: Ayolah, gue kagag bisa tidur tau!
: Ahahahaha.

Tawanya meledak, dan gue tetap enggak bisa tidur. Berbagai upaya gue lakukan agar bisa tidur, mulai dari berdzikir, tetapi bukannya tertidur, gue malah berpikir keras, berapa kali gue telah berdzikir, seberapa banyak, dsb. Hal itu membuat gue semakin melek, bukannya mengantuk.

Entah bagaimana, yang jelas gue tertidur saat itu. Dan malangnya, hal yang gue tidak inginkan terjadi. Gue merasa badan gue berat dan tidak lama badan gue bergetar keras dan gue merinding di sekujur tubuh gue.

Merasa ada yang tida beres, gue langsung membaca Ayat Kursi dan mengulang-ngulang kalimat terakhir ayatnya, karena itu bekhasiat untuk mengusir dan membakar makhlus halus. Kejadian terjadi begitu cepat, dan akhirnya gue kembali tertidur.

Beberapa hari kemudian, gue baru ingat bahwa ada kejadian seperti itu yang terjadi malam itu. Gue tidak ingat, karena jujur gue sendiri merasa itu hanyalah mimpi. Kalaupun nyata (semoga saja enggak), berarti dapat disimpulkan gue memiliki sifat tidur stadium tinggi sehingga bisa kembali tertidur dengan tenangnya setelah mengalami peristiwa mengerikan itu.

Saat itu ialah masa gue hobi-hobinya chatting di obrolan Facebook. Gue yang masih ingat dengan jelas apa yang terjadi, dengan tidak sabar ingin menceritakan hal itu kepada teman-teman gue.

Sebenarnya bisa saja gue menceritakannya lewat telephone atau sms, tetapi gue sadar itu membuang-buang tenaga dan biaya. Melalui facebook, gue udah mendapat layanan yang cukup. Gue enggak perlu keluar biaya demi menceritakan pengalaman aneh gue. (jujur, itu emang aneh)

Dan teman gue yang beruntung online dan beruntung menjadi teman chatting obrolan facebook gue ialah Rizqi Nur Oktavianto (Id Facebook dan nama aslinya sama, dialah teman gue satu-satunya yang memiliki nama paling original diantara teman-teman gue lainnya, oke)

: Assalamu’alaikum, Jo.
: Wa’alaikumsalam, kenapa Van?
: Kamu beapa dan dimana sekarang?
: Kenapa, Van? Di rumah lah? Mau dimana lagi. Ahahaha.
: Oh, gue boleh tanya enggak?
: Tanya apa?
: Elo online sampai kapan? Lama enggak?
: Gtw, Van. Kenapa?
: Gue mau ngomong sesuatu boleh?
: Hah?
: Tapi gue malu, Jo.
: Maho!
: Eh apa? Aseem, ngolok tiba-tiba.
(Gue kaget dia ngolok gue begitu, seandainya gue didekatnya, udah gue injek itu anak)
: Sumpah, gaya ngomong elo kaya maho. Elo sengaja lok? Awas kam lah!
: Ahahaseem, masa iya?
: Iya, maho!
: Aseeem!
(Gue berpikir sejenak serta mengecek kembali chat gue dengan Rojo, dan benar, tampaknya gaya bicara gue aneh banget)

Gue langsung menuju point inti pembicaraan gue.

: Jo, gue mimpi ketindihan?
: Ha? Ketindihan?
(sahutnya enggak ngerti)
: Itu loh, yang berat-berat itu, sesak nafas, badan enggak bisa gerak. Masa elo enggak tahu?
: Enggak. Ahahahahha.
: ==”
: Ahahahha.
(dia masih tertawa, dan terus tertawa)

Gue pun menceritakan apa yang terjadi, dan gue akui, sulit untuk serius jika berbicara dengan anak satu itu. Sulit banget.

Merasa enggak cukup berbicara dengan Rojo (Rizqi), gue merasa harus memberitahu orang rumah atas kejadian itu, yaitu Mama gue.

“Ma, kayanya kemaren lusa ipan kena tindih deh.” ucapku ragu ke Mamaku yang sedang asyik memotong sayuran di depan tivi seraya menonton infotaiment terbaru.
“Ah masa?” sahut mamaku kontan enggak percaya.
“Kayanya sih, Ma. Ipan aja bingung. Antara iya atau tidak.” Kata gue enggak yakin, enggak berusaha yakin.
“Bagaimana ceritanya sih?” Tanya mamaku penasaran.
“Ya ipan tidur sebagaimana biasanya, dan tiba-tiba di tengah tidur ipan merasa kaya kena cirri-ciri tindihan, sesak napas lah, badan enggak bisa gerak lah, badan bergetar lah, dll. Nah, setelah Ipan bacakan ayat kursi beberapa kali, udah kembali normal. Tetapi Ipan enggak bingung, antara sadar atau enggak. Khawatirnya hanya mimpi aja.” kata gue seraya memberikan penjelasan seadanya. Tanpa melebih-lebihkan, takut kualat.
“Bisa aja tuh. Kamunya aja enggak yakin, apalagi orang lain.” Sahut mamaku singkat.
“Mungkin aja, soalnya masa ada orang yang habis kena kaya gitu bisa antengnya tidur lagi dan enggak sadar. Mudah-mudahan hanya mimpi. Amin.” balas gue mengiyakan.

Dan kejadian itu gue lupakan sampai suatu malam, enggak jauh dari kejadian sebelumnya, gue mengalaminya lagi. Anehnya, dengan keadaan yang sama. Gue tetap enggak sadar dan kembali tidur dengan antengnya. Sampai yang ketiga kalinya, dan kali ini gue dengan sangat yakin mengatakan bahwa yang ketiga hanya mimpi.

Why?
Karena dalam kejadian yang ke tiga itu, sehabis di tindihin gue segara lari ke luar kamar dan langsung duduk online karena gue enggak mau tidur lagi. Kenyataannya, gue dengan pulas tertidur dan enggak ada keluar kamar, apalagi online. Enggak mungkin banget.

****

Semenjak kejadian yang sejujurnya seram menjadi aneh, gue enggak pernah lagi mengungkit dan mengupas apapun informasi tentang hal itu. Gue asumsikan bahwa kejadian-kejadian sebelumnya hanyalah mimpi gue belaka dikarena rasa penasaran yang berlebihan. Yah mungkin aja.

“Van, denger-denger elo kena tindih ya?” tanya si Angga, sahabat gue memecah konsentrasi gue.
“Ah tau dari mana, Gga?” tanya gue kaget.
“Ya dari elo lah, Van” Sahutnya enteng banget, seolah-olah mengejek gue.
“Ha? Yang bener?” Tanya gue kaget. “Terus ngapain elo tanyakan lagi?” sambung gue heran. Heran banget. Ganteng-ganteng ngaco juga.
“Yo wes, Cuma basa-basi aja kok tadi. Ahahaha.” Jawabnya seraya tertawa kecil. “Terus gimana ceritanya tuh?” sambungnya lagi, dan agag serius.
“Ya kaya gitu. Gue rasa itu cuma mimpi doing.” Sahut gue biasa, biasa banget.
“Mimpi, Van?” tanyanya bingung, heran.
“Iya beneran.”
“Kok bisa?”
“Ya bisa aja, Gga. Mungkin karena gue berlebihan memikirkan tentang tindihan. Akibatnya terbawa sampai ke tidur. Elo jangan kaya gue, ya.” Kata gue panjang lebar.
“Ah ya enggak dong, Gue enggak separah elo, Van.” katanya singkat tapi jelas banget mengejek gue.
“Asem lu, Gga.” Sahut gue seraya berusaha menjitak kepala itu anak.
“Ahahaha. Eits!” sahutnya seraya menepis tangan gue.

Rupanya perbicangan kami menarik perhatian teman-teman yang lain, dan mereka ikut joint juga. Angga menceritakan apa yang sebenarnya terjadi, dan dengan mudah dapat ditebak, hampir mereka semua tertawa. Gue misuh-misuh.

“Puas lo, Gga. Gue dipecundangi.” Gumam gue dalam hati, walau ikut tertawa juga.

Sampai detik gue menulis story ini, gue enggak pernah mengalami tindihan. Dan semoga saja enggak akan pernah. Semoga saja. Amin.

****

Categories: Cerita Gue, Ilmu Kesastraan, Simpone Bahase | Tinggalkan komentar

Navigasi pos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Blog di WordPress.com.

%d blogger menyukai ini: